Ann berkemas-kemas
sehari sebelum keberangkatannya. 2 koper ukuran besar sudah berjejer rapi di
kamarnya. Ia hanya perlu memasukkan beberapa baju tebal lagi, setelah itu
selesai. Ann mengambil bingkai foto kesayangannya yang berisi foto
teman-temannya. Ia tersenyum geli melihat pose jenaka mereka di dalam foto itu.
Melamun sejenak, lalu memasukkan bingkai itu ke dalam kopernya.
Ia
mendesah kecil, rasanya berat sekali meninggalkan semua ini. Keluarganya.....saudaranya....teman-temannya.....
Sepertinya baru kemarin mereka berkumpul
bersama tapi besok ia sudah harus berpisah dengan mereka. Ann menebak kira-kira
perubahan apa yang akan mereka alami selama beberapa tahun ke depan. Tapi mungkin
ini lebih baik, siapa tahu dengan begini Ann bisa melupakan semua kejadian
buruk yang pernah terjadi di sini.
Pintu
kamar diketuk dari luar, tak lama kemudian Papa masuk ke dalam. Ia tersenyum kecil
melihat koper-koper Ann, “Baru kemas kemas nih? Besok kan sudah mau berangkat.
Cepat ya, rasanya baru kemarin kamu pakai seragam putih abu-abu....sekarang
malah sudah mau kuliah.”
Ann
tersenyum menimpalinya.
“Maksud
Papa?”
Papa
duduk di tepi ranjangnya, “Yaa...perasaan kamu karena sudah mau pergi ke
Inggris. Waktunya tidak singkat loh.”
”Aku
bakal kangen sama teman-teman.”
”Sama
Papa enggak kangen?”
”Ya
kangen donk!” Ann tertawa sambil merangkul Papanya, “Sama Papa, sama Mama, sama
Bi Sumi juga kangen!”
“Papa
lega kamu sudah bisa tertawa. Baguslah....”
“Memangnya
kenapa kalau aku tertawa?”
“Papa
kira....kamu masih trauma sama peristiwa itu.”
Ann
tersenyum simpul, “Aku sudah melupakannya, Pa. Aku sama sekali tidak memikirkannya
lagi.”
”Sungguh?”
Ann
melepaskan rangkulannya, kembali sibuk berkemas-kemas, “Sungguh. Aku memang tidak
memikirkannya lagi.”
---------------
Sore itu
saat Vincent sedang berjalan seorang diri di kampusnya, ia mendengar seseorang memanggil
namanya dari belakang. Ia menoleh
mencari-cari
si pemanggil, lalu terkejut melihat siapa orang itu. Emma berlari kecil
menghampirinya dengan nafas tersengal-sengal, “Hh...hh...Aku sudah mencarimu ke
mana-mana di kampus ini...ada yang harus kita bicarakan.....”
“Tentang
apa?”
“Tentang
semuanya, Vincent, tentang semuanya.”
Vincent
kontan tersenyum lebar padanya. Di meja kantin itu Vincent menceritakan semuanya
pada Emma dari awal. Semuanya. Tentang awal perkenalan mereka dengan Emma, saat
mereka pertama kali mereka bertemu Ann, kemudian tentang niat mereka untuk
menjebak Ann agar Papanya mau mengeluarkan uang buat Dennis,
lalu tentang perubahan rencana mereka yang semata-mata karena Dennis jatuh
cinta beneran pada Ann, dan yang terakhir saat Dennis terpaksa melukai Ann demi
kebaikan Ann sendiri.
Emma
tercengang mendengarnya. Meskipun ia agak tersinggung mendengar mereka pernah
berniat memanfaatkan dirinya, tapi Emma lebih terkejut lagi karena Dennis sebenarnya
mencintai Ann. Sebenarnya ia ragu untuk mempercayai semua ucapan Vincent, tapi
sepertinya ia tidak punya alasan untuk tidak percaya.
“Apa
ceritamu bisa dipercaya?”
“Coba
pikir, Emma, apa untungnya bagiku mengarang-ngarang cerita seperti itu? Aku
tidak berbohong sedikitpun! Dennis memang benar terjerat hutang ayahnya, dia
memang butuh uang, tapi cek dari Papa Ann itu sama sekali tidak disentuhnya! Ia
sedikitpun tidak mau memakai cek itu!”
“Tapi kenapa
di rumah sakit itu...”
“Kan
sudah kubilang, Dennis pikir dia tidak pantas mendampingi Ann. Dia berbuat itu semata-mata
agar Ann bisa melupakannya! Lagipula itu permintaan Papa Ann. Dennis pikir
benar juga, mungkin Ann memang tidak semestinya bersama dengannya, dia tipe cowo
yang tidak punya masa depan.”
Emma
mengerut kening, berpikir keras untuk memecahkan semua kesalahpahaman ini.
“Sampai
sekarang pun Dennis masih belum bisa melunasi hutang-hutang ayahnya. Dia terpaksa
bersembunyi selama sebulan ini.”
“Apa
keadaannya baik-baik saja?”
“Tidak
terlalu baik. Kau tahu, kadang saat kita melukai orang yang kita cintai, luka
yang kita tanggung jauh lebih sakit daripada orang itu.”
“Apa
Dennis tahu besok Ann sudah mau berangkat ke Inggris?”
Vincent
mematung diam sebagai jawabannya.
“Aku tak
akan membiarkan Ann pergi begitu saja tanpa mengetahui kebenarannya.”
“Kau mau
membantunya?”
“Tentu.”
Jawab Emma mantap.
---
Ann
mengadakan acara perpisahan dengan beberapa teman akrabnya di salah satu
restoran Jepang. Mereka berkumpul di sana memberi ucapan perpisahan terakhir
buat Ann. Semua teman akrabnya hadir di sana kecuali Emma. Tapi sedikitpun Ann
tidak curiga karena ia sudah menerima telepon dari Emma yang
katanya bakal telat dikit.
“Ann
harus sering-sering balik ke Indo ya, jangan mentang-mentang udah keasikan
kuliah di
sana.”
”Iya,
terus jangan lupa bawa oleh-oleh buat kita.”
Semuanya
tertawa.
“Eh, aku
kan ke sana buat kuliah!”
“Tapi
enak juga ya jadi Ann. Bisa kuliah ampe ke Inggris segala, mana kuliahnya ambil
jurusan kedokteran lagi!”
“Kan
lulusnya lama, Ann.”
”Tidak
masalah, itu kan cita-citaku sejak dulu.”
“Bagaimana
pun juga kita semua salut, mungkin di angkatan kita ini cuma ada satu orang yang
ambil kedokteran sampai ke Inggris.”
”Dan kita
semua bakal kehilangan kau, Ann....”
“Ayo kita
tos,” Josh bangkit berdiri sambil mengangkat gelas minumannya, “buat teman kita
yang sebentar lagi bakal pergi lamaaaaa banget.”
“Buat
Ann!!”
Ann
mengikuti semua teman-temannya yang sudah berdiri sambil mengangkat gelas. Ia tertawa
kikuk melihat pandangan mata semua pengunjung restoran yang tertuju pada
mereka.
“TOOOSS
!!!”
Kira-kira
30 menit kemudian akhirnya Emma datang juga, baru acara makan-makan itu bisa dimulai.
“Kasih
kata-kata perpisahan donk, Ann....” desak mereka pada Ann di sela-sela acara.
“Aduh
malu-maluin aja. Kalian dulu donk.”
“Oke...oke...biar
aku dulu.” Ria mengajukan diri, “buat temanku, Ann. Semoga dia tidak lupa sama
kita-kita semua. Semoga dia sukses dengan kuliahnya dan cepat-cepat bawa pulang
cowo bule!”
“Huuuhhh......”
semua menyorakinya.
“Aku! Aku!” giliran Priska, “aku cuma mau bilang, Ann
itu teman yang paling baik, paling sabar sedunia, paling imut, paling kalem,
paling pinter, paling rajin bikinin PR buat kita semua, pokoknya paling
semuanya deh! Aku pasti bakal kehilangan dia selama beberapa tahun mendatang.
Semoga dia tidak pernah melupakan kita semua, termasuk aku. Kalau sudah jadi
dokter, aku setiap hari boleh check up gratis ya!!”
“Yeeehhh!!
Maunya!”
“Aku juga
mau,” giliran Josh yang buka suara sembari menatap Ann dalam, “aku baru mengenal
Ann tidak lama, tapi rasanya aku sudah mengenal dia selama bertahun-tahun. Ann
itu temanku yang paling baik, yang paling sabar mendengar semua ocehanku kalau
aku lagi kesal. Dia juga yang selalu mendampingiku setiap kali aku sedih.
Pokoknya Ann itu bukan cuma teman yang ada di saat kita senang saja, tapi dia
juga selalu ada di saat kita susah. Aku merasa beruntung bisa bertemu dengannya
dan menjadi temannya. Aku akan selalu mendoakan yang terbaiknya untuknya.”
Mereka
semua serius mendengarnya. Lalu tiba saatnya bagi Emma, “Ini sebenarnya bukan perpisahan
untuk selamanya, tapi meskipun begitu aku tetap akan merindukan Ann. Kami sudah
berteman sejak kecil, dulu kami pernah membuat perjanjian aneh kalau kami akan
sekolah dan kuliah di satu tempat yang sama agar tidak terpisahkan. Ya...meskipun
janji itu tidak bisa terwujud,tapi aku tetap merasa sampai kapanpun juga aku
dan Ann memang tidak akan terpisahkan. Kami sudah melalui semuanya
bersama-sama, mulai dari kejadian yang menyenangkan, pertengkaran-pertengkaran
kecil sampai kejadian yang menyedihkan, tapi justru karena semua itulah aku
bisa belajar bagaimana cara menghargai persahabatan kami. Dan aku bangga karena
sampai detik ini aku masih bisa menjadi temannya.”
Ann
tersentuh mendengar semua itu. Setelah itu yang lainnya tak mau ketinggalan
bergantian mengucapkan salam perpisahan mereka pada Ann. Ann tersenyum haru
mengucapkan terima kasih, “Thanks ya. Kalian memang teman-temanku yang baik.
Aku pasti tidak akan melupakan kalian semua...Thank you banget...Kalian juga,
meskipun kita semua bakal terpencar-pencar setelah lulus, kita harus
sering-sering contact satu sama lain. Jangan sampai persahabatan kita cuma
sampai di sini saja.”
“Duhh...jadi
mau nangis.” Ria mengusap matanya cepat-cepat.
Mereka
tersenyum menatap Ria, sedikit pun tidak mengolok-oloknya karena sebenarnya dalam
hati mereka masing-masing pun merasa sedih. Acara makan-makan itu baru selesai
sekitar jam 9 malam. Ann memberi pelukan hangat pada semua teman-temannya
untuk terakhir kali, besok mereka tidak bisa mengantarnya sampai ke airport.
Mereka kemudian bubar satu per satu. Tapi mereka semua berjanji akan sering contact
sesibuk apapun nantinya. Bahkan sudah ada yang mengusulkan 2 tahun lagi harus
diadakan acara reuni.
Emma
memaksa ingin mengantar Ann pulang. Josh akhirnya mau mengalah pulang sendiri.
“Wow....sudah
punya SIM nih ye,” celetuk Ann di mobil saat Emma mengendarai mobilnya dengan
tegang, “nyetirnya masih culun tuh. SIM nembak ya?”
”Bawel.
Ini udah yang paling nyantai nih. Aku kan belum pernah bawa mobil malam-malam.”
“Lagian siapa
suruh bawa mobil segala, kan ada Josh.”
“Aku mau
bicara, penting. Makanya tadi Josh kusuruh pulang sendiri.”
“Mau
bicara apa? Tumben-tumbenan kau serius seperti ini.”
***
“Ann, kau
harus dengar aku baik-baik ya.”
“Dengar
apa?”
“Tadi
sore aku menemui Vincent. Aku terlambat datang karena menemuinya.”
Ann
menatapnya tegang, “Buat apa?”
”Ini
masalah Dennis, Ann.”
”Emma, tolong
jangan bahas soal itu lagi! Jangan sebut-sebut namanya lagi.”
“Tapi kau
harus dengar aku.”
“Sejak kapan
kau jadi memihak padanya?! Aku sudah bilang, aku tidak mau lagi berurusan
dengannya!”
“Iya,
tapi kau harus tahu yang sebenarnya! Kau akan menyesal kalau sampai tidak tahu!
Dennis itu benar-benar mencintaimu, kau harus tahu itu! Dia berbuat seperti itu
karena dia merasa tidak pantas menjadi pacarmu. Lihat dirimu, anak baik-baik,
dari keluarga kaya, punya otak cerdas, masa depan cerah, kuliah di Inggris,
kalau aku jadi Dennis aku juga bakal merasa tidak pantas mendampingimu!”
“Semua
ucapanmu itu konyol sekali.”
“Aku tidak berbohong. Kau tahu? Cek yang diberi Papamu
itu dirobek Dennis, dia sama sekali tidak mau memakainya!”
Ann
menutup kupingnya, “Aku tidak mau dengar!! Apapun yang mau kau katakan, aku tidak
akan terpengaruh!”
Emma
membanting setir, “Kalau begitu aku akan membawamu langsung ke orangnya!”
“Apa? Apa
yang kaulakukan, Emma?”
“Kau
harus mendengar sendiri darinya.”
”Aku
tidak mau! Hentikan mobilmu!”
Emma mengunci
seluruh pintu mobilnya automatis, ia langsung mengencangkan laju mobilnya tanpa
menghiraukan permohonan Ann.
Mobil berkecepatan
tinggi itu direm mendadak di depan mobil Vincent yang kosong. Emma turun dari
mobil, lalu membuka pintu Ann dan menarik temannya itu untuk keluar. Ia tidak
peduli meskipun Ann berulang kali meronta-ronta ingin melepaskan diri. Ann ditariknya
sampai ke sebuah rumah kosong yang tidak berpenghuni. Mereka menyelinap masuk
ke dalam sana dan menemukan Vincent seorang diri. Hanya Vincent.
“Mana Dennis?
Dia harus menjelaskan semuanya pada Ann sekarang!” Emma mendorong Ann pada
Vincent.
Vincent menatapnya
getir, “Dennis sudah pergi....”
”Apa
katamu!? Itu tidak mungkin, bukankah kau sudah bilang malam ini kita harus mempertemukan
Dennis dengan Ann!”
“Aku
tahu! Tapi....dia sudah pergi.”
”Kalau
begitu cepat beritahu aku ke mana dia pergi!”
“Aku tidak
tahu, Emma..” Vincent menunduk, “aku tidak tahu....”
Ann
mendesah sinis, “Sudah kubilang, untuk apa memperpanjang masalah ini lagi? Aku tidak
akan terpengaruh meskipun dia ada disini sekarang. Aku sudah tidak peduli lagi.
Untuk apa kalian repot-repot mengarang cerita untuk membelanya? Dia saja tidak
mau pusing-pusing!”
“Tapi aku
sama sekali tidak mengarang cerita! Semua yang kukatakan itu benar!”
“Dia
benar, Ann.”
”Kenapa kau
begitu yakin dengan semua ucapannya? Kau lebih memihak dia daripada aku?! Apa
kau tidak tahu aku sudah cukup menanggung semua sakit hati yang dia buat
padaku?! Aku sudah capek, Emma! Berhentilah menyeretku ke masalah ini lagi.
Tolong biarkan aku lepas dari semua masa lalu itu. Lupakan semua yang sudah
usai!”
”Dennis
pergi bukan karena dia tidak mau bertemu denganmu. Dia pernah bilang kan? Suatu
hari nanti dia akan membawa ibunya pergi meninggalkan ayahnya. Sekarang dia sudah
benar-benar pergi...”
Kalimat
itu berhasil membungkam Ann.
“Aku
terlambat datang untuk menyakinkan dia. Tapi sebelum itu dia pernah bilang, dia
ingin sekali bertemu denganmu di tempat yang hanya kalian berdua tahu sebelum
kau pergi ke Inggris. Aku tidak mengerti apa maksud ucapannya...”
Tapi Ann
mengerti apa maksudnya. Tempat itu adalah taman tertutup di mana mereka pernah
saling berjanji untuk pergi ke sana setiap kali merasa rindu dengan yang lain.
Ann menggeleng, untuk kesekian kalinya ia menyakinkan dirinya untuk tidak mempercayai
semua itu.
“Kenapa
sulit sekali bagimu untuk mempercayai Dennis? Apa yang harus dia lakukan baru
kau mau percaya, Ann?”
“Tidak ada.
Aku hanya mau dia benar-benar pergi dari kehidupanku. Semua sudah terlambat,
Vincent, sudah terlambat untuk memaafkannya.”
“Aku mengenal
Dennis luar dalam, aku tahu masa lalunya memang tidak terlalu baik....tapi
belum pernah aku melihat dia mencintai seseorang sebesar perasaannya padamu. Aku
belum pernah melihat dia mau berkorban sampai seperti ini hanya demi seseorang.
Kau harus percaya, Ann. Sebenarnya aku pun sudah pasrah bagaimana kau
mau membenci
Dennis, aku hanya mau kau menyisihkan sedikit perasaanmu padanya untuk memberinya
kesempatan sekali lagi. Karena aku yakin kau sebenarnya masih peduli.”
Tapi tak
ada yang mampu mencegah kepergian Ann.
“Ann,
sebelum kau pergi ke Inggris.....cobalah kau datang ke tempat yang dimaksud
Dennis itu. Mungkin semuanya belum terlambat...” ujar Emma.
Ann tidak
menghiraukan bujukan Emma. Ia pergi begitu saja.
Keesokkan
harinya..
Ann duduk
diam di mobilnya dalam perjalanannya ke airport. Ia hanya membisu tanpa mendengar semua nasehat dari Papa dan Mamanya seputar Inggris. Ia
merasa tidak bergairah lagi pergi ke Inggris. Ada yang menyesakkan, seakan-akan
mendesaknya untuk menyelesaikan suatu masalah yang masih menggantung. Ia tidak
ak
an merasa
tenang sebelum menyelesaikannya hingga akhir.
"Sebelum kau pergi ke Inggris.....cobalah
kau datang ke tempat yang dimaksud Dennis itu. Mungkin semuanya belum
terlambat..."
Kata-kata
Emma terngiang-ngiang lagi dalam benaknya......
Tidak, aku tidak mau!
Ann memejam
matanya kuat-kuat, setengah mati menghapus semua keraguan yang ada didalam
pikirannya. Hatinya terombang-ambing tak menentu. Tapi semakin ia menghindar, kata-kata
dari Vincent dan Emma semakin menghantuinya. Datang menyerangnya bertubi-tubi
tanpa ampun.
"kau akan menyesal kalau
sampai tidak tahu! Dennis itu benar-benar mencintaimu, kau harus tahu itu! Dia
berbuat seperti itu karena dia merasa tidak pantas menjadi pacarmu."
"cek yang diberi Papamu itu
dirobek Dennis, dia sama sekali tidak mau memakainya!"
"aku hanya mau kau
menyisihkan sedikit perasaanmu padanya untuk memberinya kesempatan sekali lagi.
Karena aku yakin kau sebenarnya masih peduli"
"sebelum kau pergi ke Inggris.....cobalah
kau datang ke tempat yang dimaksud Dennis itu. Mungkin semuanya belum
terlambat..."
"cobalah kau datang ke
tempat yang dimaksud Dennis itu. Mungkin semuanya belum terlambat..."
"mungkin semuanya belum
terlambat..."
"...belum terlambat..."
Ann
meremas tangannya. Nuraninya berperang hebat di dalam sana. Ia terus mencoba untuk
tidak terpengaruh sedikitpun, tapi justru hati kecilnya sendiri yang terus mendesaknya
untuk percaya. Bagaimana kalau ternyata Vincent dan Emma tidak membohonginya?
Bagaimana kalau Dennis ternyata memang tidak seperti yang ia kira? Akankah ia
menyesal karena tidak mau mendengar kata hatinya?
“Waduh.....kok
di sini malah macet? Seharusnya kita tadi pergi lewat
jalan
lain,” keluh Mama saat supir menghentikan laju mobilnya di tengah-tengah
kemacetan.
Ann
melamun. Masih bergelut dengan kerisauannya.
“Ann?”
Aku akan menyesal nantinya kalau
ternyata Emma dan Vincent benar...
”Ann,
kamu kenapa?” Mama menatapnya bingung.
“Ann?”
Ann
mendongak, menatap wajah kedua orang tuanya dengan tatapan penuh rasa bersalah.
Tapi keputusannya sudah bulat. Ia akan mengambil resiko apapun yang nanti akan
menimpanya. Lalu tiba-tiba saja, Ann membuka pintu mobil dan langsung meloncat
keluar.
Mama memekik,
“Ann! Apa yang kamu lakukan!”
“Ann!!”
teriak Papa, “kembali ke sini!”
Ann tidak
menuruti mereka. Ia tidak sempat berpikir panjang, yang ia mau hanyalah berlari
ke tempat di mana ia bisa menemui Dennis sebelum terlambat. Kakinya berlari mengikuti
kata hatinya, berlari menerobos kemacetan lalu lintas yang mengepung mobil keluarganya.
Ann tidak
peduli Papa dan Mama terus berteriak ketakutan memanggilnya. Tapi ia tidak takut
sedikitpun.
Aku harus ke sana!
Ia terus
berlari dan berlari. Berharap keputusannya ini sudah tepat.
Berharap
ia bisa memiliki akhir yang bahagia.
----
Di taman
itu Ann menunggu seorang diri. Tak ada yang sanggup menggambarkan seperti apa
suasana hatinya saat ini. Ia menunggu dan terus menunggu, berharap Dennis akan muncul
di depan matanya. Meskipun ia merasa sebenarnya ia sedang menunggu ketidakpastian
yang takkan kunjung datang.
Ia tahu
harapanya sangat tipis. Tapi ia terus menunggu. Ann berdiri di
tepi danau itu dan mengenang kembali saat-saat ia dan Dennis mengucapkan
permohonan. Lalu saat Dennis pergi menelusuri taman itu untuk mencarikannya
mawar. Mungkin Ann tidak pernah menyadari bahwa saat itulah ia pertama kali
membuka hatinya untuk Dennis hingga akhirnya jatuh cinta padanya.
Ann
meringkuk di sana. Menahan semua kenangan manis itu agar tak menyeruak keluar dan
membuat luka di hatinya semakin dalam. Tapi memori itu terus berputar di dalam pikirannya,
tertanam dalam jiwanya. Dan Ann tak kuasa menipu dirinya sendiri bahwa ia sebenarnya
menginginkan saat-saat indah itu bisa kembali padanya.
Maka ia
pun terus menunggu.....Berjam-jam ia meringkuk di tepi
danau
itu. Menunggu dan terus menunggu.... Hingga pada akhirnya Ann justru tidak tahu
kenapa ia mau datang ke tempat ini. Kenapa ia masih juga memberi kesempatan
pada Dennis meskipun ia tahu akhir yang bahagia seperti yang ia inginkan tidak
akan pernah terjadi.
Kini ia
menyesal... Menyesal telah datang kemari. Sampai kapanpun juga Dennis tidak
akan datang. Ia merasa yang ia tunggu-tunggu hanyalah kepalsuan, hanya khayalan
yang terlalu tinggi. Ia sudah cukup merasa sakitnya jatuh, dan kini ia harus
merasakannya lagi.
Tiba-tiba
saja ia lelah terus berharap seperti ini. Ia bosan menangis. Sudah cukup.
Semuanya sudah lebih dari cukup.
Dennis tidak akan datang. Sampai
kapanpun juga ia tidak akan datang. Di tempat ini aku hanya menunggu khayalanku
sendiri. Mungkin begini lebih baik, aku bisa terbangun dari tidurku. Aku bisa
membuang jauh-jauh semua mimpiku
karena kini aku sudah tahu pasti, Dennis memang tidak pernah bersungguh-sungguh
mencintaiku. Di tempat ini aku akan mengakhiri semuanya. Aku akan melepaskan
diriku sendiri dari bayangannya. Dengan cara inilah aku akan bangkit.
Ann
bangkit berdiri, memandang seisi taman kosong itu untuk terakhir kalinya. Ia
tersenyum tanpa arti, sedikitpun ia tidak menyesal telah datang ke sini. Karena
dengan begini ia akhirnya bisa dengan rela mengucapkan selamat tinggal pada
semuanya. Selamat tinggal pada tempat itu, juga pada Dennis. Di taman itulah ia
berjanji akan melupakan Dennis dengan seluruh hatinya.
Ann tidak
pernah tahu........10 menit setelah ia pergi.....ya, hanya 10 menit....Dennis berlari menuju taman itu. Susah payah menerobos masuk untuk pergi
ke tepi danau itu. Nafasnya tersengal-sengal, memandang sekeliling untuk mencari
Ann. Tapi Ann sudah tidak ada.
Hanya 10
menit setelah Ann pergi.....
Betapa
waktu 10 menit itu sanggup mengubur cinta sedalam apapun....
***
5 tahun
kemudian.
“Bagaimana?
Sudah beres belum?”
Dennis
keluar dari pintu dapur sambil menepuk-nepuk tangannya yang kotor ke baju. Ia tersenyum,”
Sudah beres kok, Tante. Kulkasnya tidak apa-apa, mungkin sudah agak kuno jadi
sudah harus diganti alat-alat dalamnya.“
Ibu rumah
tangga itu tersenyum puas melihat hasil kerja Dennis. Ia memberi tips yang cukup
besar untuk pemuda itu. Tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih saat Dennis
sudah mau pamit pulang.
Dennis,
25 tahun, tidak banyak berubah dalam rentang waktu ini. Hanya saja tubuhnya menjadi
lebih tegap, wajahnya kian dewasa dengan garis-garis kematangan di sana. Sepertinya
ia sudah banyak menempuh kesusahan dan kesulitan dalam hidup ini hingga ia tumbuh
menjadi sosok yang dewasa. Banyak hal yang terjadi selama 5 tahun ini. Dennis pergi
dengan ibunya meninggalkan ayahnya ke sebuah kota kecil. Disana ia memulai
segalanya dari awal. Segala pekerjaan, mulai dari pelayan di restoran kecil
sampai tukang antar barang, sudah pernah dijalaninya. Susah payah ia banting
tulang dan baru bisa mengumpulkan uang untuk melunasi semua hutang ayahnya di
masa lalu. Dan tiba-tiba saja 2 tahun yang lalu ibunya meninggal dunia karena
sakit keras. Begitu tiba-tiba hingga membuat Dennis sangat terpukul, ia sempat
pulang mengunjungi ayahnya untuk menyampaikan berita dukacita ini. Tapi reaksi
yang diterimanya tidak
terlalu
baik, meskipun awalnya ia kelihatan sedih tapi keesokkan harinya malah minta uang
pada Dennis. Dennis memberikan semua uang yang ada padanya, setelah itu ia
meninggalkannya dan tidak pernah mengunjunginya lagi.
Hidupnya
boleh dibilang sangat menggenaskan selama 2 tahun belakangan ini. Begitu terpuruk
hingga akhirnya ia bertemu dengan Om Hartono, pemilik sebuah pusat service/reparasi
yang menawarinya ikut kerja di sana. Meski pengalamannya sangat minim, tapi
kemauan Dennis untuk belajar sangat keras dan pekerjaannya nyaris selalu memuaskan.
Dalam sekejap saja ia sudah menjadi bawahan kesayangan Om Hartono. Usaha kecil-kecilan
itu perlahan-lahan mulai maju dan setahun kemudian sudah bisa membuka cabang
baru di kota tempat tinggal Dennis dulu. Om Hartono beserta keluarganya ikut
pindah dan memboyong Dennis ikut serta. Mau tak mau Dennis
menurut. Akhirnya ia pulang. Kehidupannya perlahan-lahan mulai membaik. Meskipun
ia tidak mungkin membalik keadaan menjadi seperti dulu lagi, tapi ia kini sudah
bisa belajar hidup susah dan menghargai setiap uang yang ia peroleh dari hasil
kerja kerasnya. Ia sudah menjadi Dennis yang baru.
-----
Dennis
menaiki motor bututnya kembali ke tempat kerjanya, sebuah service centre resmi yang
baru saja membuka cabang di kota ini. Ia mendatangi kantor Om Hartono,
melaporkan hasil pekerjaannya. Seperti biasa, ia selalu mendapat pujian dari
pimpinannya itu.
“Kalau
kerjamu sebagus ini terus, lama-lama aku tidak butuh tukang servis yang lain
lagi di sini,” Om Hartono yang berperawakan gemuk-pendek menghampiri Dennis dan
menepuk-nepuk pundaknya, “apa kau mau mengambil gajimu sekarang?”
Dennis
membelalak kaget, “Wah...benar nih, Om?”
”Aku tahu
kau sedang mengumpulkan uang untuk membeli motor baru. Motormu itu sudah butut
sekali, memang sudah seharus
nya diganti.
Aku tidak mau karyawan terbaikku terlambat datang ke rumah pelanggan gara-gara
motornya mogok.” Ia tertawa sampai perut buncitnya kembang-kempis. Lalu ia menyerahkan
amplop coklat berisi uang gaji pada Dennis.
Dennis
menerimanya dengan senang hati.
“Aku
belum pernah melihat anak muda sepertimu. Banting tulang siang-malam seperti tidak
punya kehidupan lain saja...” Om Hartono tersenyum, “mungkin sudah saatnya kau cari
pacar yang baik, yang bisa merawatmu.”
”Tidak
usah ...aku bisa merawat diri sendiri kok.” jawab Dennis tanpa beban.
“Apanya
yang bisa? Kalau kau sakit, siapa coba yang mau mengurusimu? Makanya...cari
pacar.”
”Iya
deh...iya....” Dennis tertawa menimpalinya ,”kalau perlu sekarang juga habis pulang
aku langsung cari. Besok aku bawa ke sini.”
Mereka
tertawa bersama-sama.
Dennis
menyimpan amplop tebal itu ke dalam saku jaketnya baik-baik, takut jatuh. Lalu mengendarai
motor bututnya sambil bersiul-siul kecil. Sudah malam, ia harus cari makan.
Makan apa ya? Aku bosan makan nasi
rames melulu. Mumpung baru gajian....makan yang lebih enak dikit ah!
Dennis
tersenyum-senyum sendiri saat menghentikan motornya di depan lampu merah.
Otaknya sibuk memikirkan menu makanan yang bakal disantapnya malam ini. Rasanya
sudah lama sekali ia tidak makan enak.
Lalu tiba-tiba
saja sebuah mobil sedan mungil melaju kencang di belakangnya. Tampaknya si
pengemudi di dalam mobil itu terburu-buru sekali hingga tidak menyadari lampu
lalu lintas yang sedang merah menyala. Tiba-tiba mobil itu direm. Mobil itu
tidak sempat berhenti mulus hingga akhirnya menyerempet motor butut Dennis.
Tabrakannya
tidak keras, tapi motor Dennis sampai terdorong ke depan. Pengemudi mobil itu
keluar dengan panik. Seorang wanita rupanya. Elegan dengan pakaian bermereknya
yang mahal. Sepintas ia kelihatan sangat cantik. Tapi bukan itu yang jadi pusat
perhatian Dennis. Ia turun dari motornya dan melihat lampu belakangnya pecah.
“Aduh....sori...sori....aku
tadi nyetir sambil pegang handphone. Aku tidak tahu lagi lampu merah,
jalanannya kan sempit, jadi aku ngebut saja. Aku tidak sempat rem makanya nabrak.
Sori ya...sori...aku pasti akan mengganti kerugian ini.”
Dennis
mengamati kondisi motornya. Tidak perlu....lagian motor butut ini memang sudah
saatnya pensiun...
“Aduh.....
tolong ya jangan bawa-bawa ke polisi segala. Ini pertama kalinya aku bawa mobil
sampai nabrak. Aku benar-benar tidak sengaja. Berapa ganti rugi yang Anda mau? Saya
punya kartu nama, kalau Anda mau Anda tinggal...” suaranya tiba-tiba berhenti.
Dennis
mendongak menatapnya, bingung kenapa orang itu berhenti ngoceh-ngoceh.
“Sepertinya
aku mengenalmu.....”
Dennis
menggeleng, “Sudahlah, tidak perlu sampai begitu kok. Aku tidak menuntut ganti rugi
apa-apa, cuma lampu belakang saja yang pecah....lagipula besok motor ini juga sudah
bakal mau disimpan di museum.”
”Bukan...bukan....aku
memang sepertinya mengenalmu! Benar, aku tidak bohong!”
Dennis diam
dan tersenyum, membiarkan gadis cantik itu terus mengamatinya dengan kening berkerut.
Sedikitpun Dennis tidak merasa pernah mengenalnya.
Dennis
termangu, “Kita pernah bertemu?”
”Ya
ampun! Ternyata kau memang benar-benar Dennis! Astaga, aku sama sekali tidak menyangka!!
Ini aku, Dennis! Masak sudah lupa?!”
“Hm....”
“Ini aku,
Emma!! Emma.....”
Emma
tertawa renyah melihat Dennis terkejut saat menyadarinya.
***
Dennis memasuki
restoran itu bersama Emma. Emma bersikeras memaksanya makan malam bersama di
tempat itu. Reuni katanya.
“Wah....sudah
lama sekali ya! Aku tidak menyangka bakal bertemu denganmu di sana!”
Emma
duduk di hadapan Dennis dan tidak henti-hentinya mengamati Dennis dari rambut sampai
jempol kaki. Ia tersenyum dan mengagumi Dennis dalam hati. Meskipun ia hanya memakai
kaos oblong dan jeans belel dengan sepatu bekas, tapi Dennis tetap kelihatan istimewa
di mata Emma.
Dulu udah cakep, sekarang tambah
cakep!
“Iya,
sudah berapa tahun ya kita tidak bertemu?”
”Hm...berapa
ya?” Emma menghitung-hitung dengan jarinya, “empat ya? Eh bukan, lima tahun
kayaknya!”
“Lumayan
lama juga ya..”
“Lumayan?
Gila, lima tahun itu lama sekali, Dennis. Tapi kau tidak banyak berubah ya!” makin ganteng aja...dari cowo cengengesan berubah
jadi pria dewasa yang macho....Emma cekikikan sendiri mendengar bisikan
hatinya.
“Justru kau
yang tidak berubah.” Gentian Dennis yang meninjau Emma, “kok aku bisa sampai
lupa ya?”
Emma
masih sangat cantik. Ia tampil sangat menawan dengan rambut keritingnya yang dicat
coklat kemerah-merahan dan setelan pakaian hitamnya yang sangat ketat, minim dan
sexy. Dandanannya nyaris membuat semua mata pria di restoran itu melotot
padanya.
Seorang
pelayan mendatangi meja mereka. Terus terang Dennis tidak terlalu berminat dengan
menu makanan restoran yang mahal-mahal itu, tapi Emma ngotot ingin mentraktirnya
malam ini. Dengan syarat Dennis harus menceritakan apa saja yang menarik yang
sudah terjadi padanya selama 5 tahun ini.
“Ayo
ceritakan semuanya! Kapan kau balik ke kota ini?”
”Aku
sudah pulang setahun. Ibuku meninggal dunia beberapa tahun yang lalu karena sakit,
waktu itu aku sempat pulang untuk menjenguk ayahku sebentar. Lalu aku dapat pekerjaan
yang cocok dan akhirnya baru benar-benar kembali ke kota ini untuk mengikuti bosku.”
“Aku
turut sedih mendengar tentang ibumu.”
”Tidak
apa-apa. Kehidupanku sudah semakin baik belakangan ini.”
”Sepertinya
memang begitu. Kau jadi kelihatan gimana...gitu.. Oh ya, apa pekerjaanmu?”
”Aku kerja
di pusat service, aku ini tukang servis.....tukang reparasi lah intinya.”
”Reparasi
TV, AC, kulkas?”
”Apa saja.
Aku bisa membetuli apa saja yang punya mesin!” Dennis tertawa.
“Wah...kedengarannya
asik juga ya.”
”Kau
sendiri bagaimana? Sampai punya kartu nama segala...”
”Oh
itu...” Emma jadi malu, “begitu lulus kuliah aku langsung kerja di perusahaan pamanku.
Lumayan lah...setidaknya aku jadi lebih mandiri sekarang.”
“Sepertinya
memang begitu.”
Makanan pesanan
mereka datang juga akhirnya. Sambil makan mereka terus bertukar cerita tentang
pengalaman masing-masing.
Dennis
bercerita tentang Vincent yang sekarang sudah buka usaha sendiri. Lalu Emma menceritakan
tentang teman-teman sekolahnya yang dulu, sudah ada yang jadi bos, sudah ada
yang punya 3 anak, tapi ada juga yang hidupnya melarat. Rasanya aneh juga
memikirkan semua perubahan itu. Emma jadi sadar tenyata waktu 5 tahun itu
memang sangat lama. Terlalu lama hingga ia akhirnya ingat satu hal saat
bertanya pada Dennis, “Apa kau sudah punya pacar? Jangan-jangan malah sudah
berkeluarga!”
”Tidak,”
Dennis tertawa kencang, “aku hidup sendiri kok. Mana ada sih...yang mau sama
tukang servis seperti aku. Hidupnya pas-pasan. Motorku yang kautabrak itu saja kubeli
dengan cicilan!”
”Apa kau
pernah bertemu dengan Svannie? Maksudku Ann.” tanya Emma ringan.
“Aku
dengar dia sudah pulang dari Inggris, baru seminggu yang lalu kalau tidak
salah. Kuliahnya masih lama, dia pulang hanya untuk berlibur. Dia kan tidak
pernah pulang selama 5 tahun ini.”
“Oh ya?”
Dennis tersenyum kecil, kemudian meneguk minuman ringannya.
Begitu
selesai makan dan keluar dari restoran itu, Emma langsung menanyai alamat Dennis,
“Boleh aku minta alamatmu? Siapa tahu nanti kita bisa kumpul-kumpul lagi.”
Dennis
memberi alamatnya pada Emma, lalu balas menanyai alamat gadis itu. Emma memberi
kartu namanya.
“Nah
Dennis, aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi. Lucu juga ya, rasanya
kita sudah berubah jadi orang yang culun-culun..” Emma tertawa, “tapi bagaimana
pun juga aku bersyukur kita bisa bertemu lagi. Moga-moga saja kita bisa
berkumpul lagi dengan yang lainnya.”
“Iya,
moga-moga saja.”
-----
Kaki itu
terasa berat saat Dennis melangkah masuk ke dalam rumah kecilnya yang sederhana.
Terlalu sederhana untuk ukuran pria dewasa sepertinya. Segala perkakas reparasi
berserakan di sekitar kamar. Kamar tidur dan dapur jadi satu, tidak ada istilah
ruang tamu. Meskipun sempit tapi setidaknya ia tinggal sendiri di sana, jadi
rasanya tidak terlalu menyesakkan. Ia melempar tas kerjanya ke atas lantai
kamar yang kotor. Lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang tergeletak
begitu saja di lantai. Dipejamnya kedua mata itu
untuk
kembali mengenang semua kejadian 5 tahun yang lalu. Rasanya tidak terlalu sulit
untuk mengingat semuanya. Mengingat detik-detik terakhir dimana ia menyesal dan
langsung berlari ke taman itu untuk mencari Ann. Entah kenapa ia merasa Ann
akan pergi ke tempat itu sebelum ia berangkat ke Inggris, tapi ternyata ditunggu
sampai malam pun Ann tidak datang. Gadis itu sudah meninggalkannya keInggris.
Lalu
sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu lagi. Perlahan-lahan Dennis mencoba bangkit
dari rasa bersalah dan penyesalan yang terus
menghantuinya.
Ia terus memaksa diri untuk bekerja tanpa kenal lelah. Persis seperti kata Om
Hartono, banting tulang siang-malam. Tapi setelah malam ini ia
bertemu dengan Emma dan mendengar ceritanya tentang kembalinya Ann dari
Inggris....Dennis sadar, sampai detik ini pun ternyata ia masih belum bisa
menghapus Ann dari kehidupannya.
***
Keesokkan
harinya di tempat kerja..
Dennis
melamun, tidak terlalu berselera menyantap bekal makan siangnya. Ia sendiri tidak
jelas apa yang ada di kepalanya saat ini.
“Hey Dennis,
makan siangmu tidak disentuh?” Heru mengintip dengan penuh harapan,“buat aku
aja ya!”
Ia langsung
menyambar bekal makan siang Dennis, sedikitpun Dennis tidak mencegahnya. Tiba-tiba
Dennis beranjak dari tempatnya.
“Loh? Mau
ke mana?”
“Jalan-jalan
sebentar.”
“Jalan-jalan
ke mana? Udah mau kerja nih!”
Dennis
acuh tak acuh.
Jalan-jalan
yang dimaksud Dennis ternyata berakhir di satu tempat yang tidak terlalu asing
baginya. Dulu tempat itu adalah taman. Dan kini sudah menjelma menjadi...taman pula.
Dennis tidak tahu kapan tepatnya taman yang sudah ditutup itu kembali dibuka.
Ada yang
bilang taman ini kembali dibuka karena dibiayai seorang jutawan pecinta
lingkungan. Dennis tidak terlalu peduli. Tapi yang pasti taman ini sudah
dirombak menjadi jauh lebih indah. Seolah-olah taman itu terbuka kembali karena
menanti kedatangan seseorang.
Tidak
banyak yang berubah. Pohon-pohon tua yang menjulang tinggi masih berdiri kokoh
di sana, sekan-akan tidak akan roboh karena merupakan saksi bisu dari banyak kejadian
di tempat itu. Rerumputan begitu rapi dengan berbagai macam bunga yang bermekaran
di sekitar taman. Tapi tidak seperti dulu, kini taman itu sudah ramai
dikunjungi orang. Dennis sendiri jarang mendatangi taman ini. Ia merasa tidak
ada alasan baginya untuk datang ke sana. Bukankah yang tersimpan di tempat itu
hanya kenangan pahit?
Sepasang
remaja duduk di bangku taman,mengukir nama mereka
di sana
sambil tertawa-tawa senang. Dennis mengamatinya, tanpa sadar ikut tersenyum. Lalu ditatapnya bunga-bunga mawar yang bermekaran di sudut taman.
Sudah banyak mawar di sini....dulu
aku sampai mati-matian mencarinya dan cuma dapat satu tangkai yang sudah hampir
layu....
Tapi ia
ingat betul saat itulah Ann pertama kali tersenyum untuknya.
Kakinya terus
melangkah hingga sampai ditepi danau itu. Masih sama seperti dulu. Rentang
waktu 5 tahun tidak mampu mengikis keindahannya.
Danau ini..........
Danau penuh
kenangan. Ia pernah mengikuti tradisi konyol melempar kerikil dan meminta permohonan
agar Ann tahu semua isi hatinya. Dennis tersenyum. Seandainya sekarang ia diminta
untuk membuat permohonan lagi....Dennis tidak tahu apa yang akan ia minta.
Segala-galanya sudah tidak berarti.
GUK!!
Seekor anjing golden retriever menggonggongi Dennis dan mengibas-ngibas ekornya
saat ia memutar-mutar di sekitar kaki Dennis. Anjing yang bagus. Tapi kenapa ia
mendekati Dennis?
“Speedy!”
Dennis
mendengar ada suara memanggil-mangil si golden retriever jantan ini. Dennis mendongak
menatap siapa gerangan si pemiliknya. Kemudian ia tercekat, bergegas bangkit
berdiri dengan nafas tertahan. Gadis itu berlari-lari kecil mendapati anjingnya
tengah melingkar-lingkar di sekitar kaki Dennis, “Speed, hentikan! Jangan
bandel ya! Hey, Speed!”
Dennis
seperti mati rasa, sekelilingnya terasa berputar-putar saat mendengar suara itu
dan melihat sosok itu dari dekat. Dekat sekali hingga Dennis merasa seolah-olah
ia tengah bermimpi. Atau mungkin ini memang hanya mimpi?
Tapi
gadis itu berada sangat dekat dengannya, ini bukan mimpi!! Hampir-hampir Dennis
merasa jantungnya berhenti berdetak.
“Ann..”
Gadis itu
berhenti mengejar anjingnya. Ia menoleh pada Dennis. Sunyi........kesunyian
yang mematikan.
“.....Dennis..”
Akhirnya,
dalam waktu lima tahun perpisahan mereka, inilah pertama kalinya kedua mata mereka saling bertatapan.
“Bagaimana
kabarmu?” tanya Dennis kaku. Diamatinya Ann dengan sungguh-sungguh. Rasanya ia
masih belum percaya Ann ada di depan matanya. Ann! Dia benar-benar Ann...
Ann
tampak jauh lebih dewasa dibandingkan dulu. Rambutnya jadi panjang, dan wajahnya
tetap cantik meski ia jadi lebih kurus dibandingkan saat terakhir Dennis melihatnya.
Tapi di balik penampilan yang sederhana itu, ada karisma di dalamnya yang membuat
Dennis tak berkutik. Sesuatu dalam diri Ann yang selalu membuatnya mabuk
kepayang. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam diri Dennis.
Apa dia sudah melupakanku? Apa dia
sudah memaafkanku? Apa dia akan membenciku lagi seperti dulu? Apa dia merasa terbenani
dengan pertemuan ini?
“Aku
baik-baik saja.” ia tersenyum, menarik kalung leher Speedy, anjingnya.
Hati Dennis
bergetar hebat saat Ann menatapnya lagi, “Kau sendiri bagaimana?”
”Aku? Aku
juga baik-baik saja.”
Kemudian
suasana menjadi kaku.
“Aneh ya,
kita bisa bertemu lagi di sini.”
“Aku juga
kaget. Setahuku taman ini ditutup kan? Kebetulan tadi saat aku membawa Speed
jalan-jalan, aku melewati tempat ini. Sampai kaget, ternyata taman ini sudah dibuka
lagi.”
“Ada yang
membukanya lagi, taman ini dirombak jadi lebih bagus. Dengar-dengar sih orang
yang membuka taman ini seorang pecinta lingkungan. Mungkin dia sama-sama merasa
sayang kalau taman ini ditutup. Ada juga ya, yang suka dengan tempat ini selain
kita.”
Dennis
tersenyum kaku.
’Kita’? Kenapa aku bisa
mengucapkan kalimat konyol itu?
“Bagaimana
kabar Vincent?”
”Dia
baik-baik saja, dia sudah buka usaha sendiri dan
akhir-akhir
sering keluar kota.”
“Kedengarannya
sangat menarik.”
“Kemarin
aku bertemu Emma.”
“Iya,
begitu pulang dari Inggris aku langsung mencari Emma. Dia makin cantik saja
ya?”
“Hm..bagaimana
kuliahmu di sana?”
”Lulusnya
masih lama. Tapi aku betah tinggal di sana. Sudah lima tahun aku tidak pulang ke
sini. Apa kau tahu, keluargaku semuanya juga sudah pindah ke sana? Kakakku
sudah menikah juga menetap di sana.”
“Oh ya?
Baguslah kalau begitu.”
Ann
mengangguk kecil.
“Jadi
sekarang rumahmu tidak ada yang menempati?”
“Tidak
ada, tapi ada yang merawatnya setiap hari.”
Speedy
mengibas-ngibas ekornya manja pada Dennis. Mau tak mau Ann tertawa, “Speed memang
anjing yang sangat aktif. Dia suka mendatangi siapapun yang tidak dikenalinya.”
Untung dia mendatangiku....
Dennis
jongkok ke bawah dan mengelus-elus anjing itu dengan lembut. Ia dapat merasakan
Ann sedang menatapnya. Lalu ia memberanikan diri menengadah, “Bagaimana kalau
kita duduk-duduk sebentar sambil minum kopi? Rasanya banyak sekali cerita yang
masih ingin kudengar darimu.”
“Baiklah.”
jawab Ann enteng.
***
Di kedai
kopi yang mungil itu Ann menceritakan semua pengalaman-pengalaman menariknya
selama di Inggris. Tentang kebudayaannya, tempat-tempatnya yang indah dan
eksotik, tentang mata kuliah kedokterannya yang berat namun menantang, tentang pola
hidupnya yang amburadul pada awalnya karena tidak bisa beradaptasi, dan masih
banyak lagi. Suasana di antara mereka agak mencair setelah itu. Mereka sudah
bisa tertawa lepas layaknya dua orang yang saling melepas rindu setelah
bertahun-tahun tidak berjumpa. Tapi sedikit pun tidak ada yang menyinggung
tentang masa lalu di antara mereka berdua. Tampaknya baik Dennis maupun Ann
lebih memilih tidak mengorek kembali masa lalu itu.
“Dari
tadi aku yang cerita, sekarang giliranmu.” Ann meneguk minumannya.
“Aku sudah dapat kerjaan yang cocok. Meskipun cuma
tukang servis peralatan elektronik, tapi kehidupanku jauh lebih baik.”
”Baguslah
kalau begitu.”
“Rasanya
tidak ada yang bisa kuceritakan. Kehidupanku semuanya biasa-biasa saja.”
“Aku
hampir lupa. Besok kau bisa datang ke pesta ulang tahunku?”
Dennis
agak terkejut.
“Bukan
aku yang rencanain, aku sama sekali tidak pernah berniat merayakan ultah,” Ann tertawa,
“teman-temanku yang merencanakan semuanya. Katanya selagi aku sudah pulang,
jadi sekalian saja.”
“Oh...begitu..”
”Kau bisa
datang kan?” Ann mengambil sesuatu dari tas kecilnya, secarik kertas dan pen. Ia
menulis alamat tempat dilangsungkannya pesta ultah itu, kemudian menyerahkannya
pada Dennis, “ini alamatnya. Aku harap kau bisa datang.”
”Besok
ya? Kebetulan aku memang tidak lagi banyak kerjaan.” Dennis tersenyum lebar padanya,
“pestanya pasti ramai ya?”
“Ya
begitulah...”
Dennis
tahu apa inti dari pertanyaan selanjutnya, “Kau pasti mengundang pacarmu ya.”
Ann
terdiam sesaat. Kemudian ia tersenyum sangat manis pada Dennis sembari
mengangkat tangan sebelah kirinya, sebuah cincin perak berlian melingkar di
jari manisnya, “Aku sudah tunangan.”
"aku sudah tunangan"
Bagaimana mungkin aku tidak
melihat cincin di jarinya itu? Ann sudah bertunangan....
“Sudah
dua bulan. Dia teman kuliahku di London, sama-sama ambil kedokteran. Tapi dia juga
orang sini kok. Keluarganya sudah kenal baik dengan keluargaku, jadi semuanya berjalan
sangat lancar.”
Tentu saja....bagaimana mungkin
aku berpikir dia akan tetap menungguku, setelah semua perbuatanku padanya di
masa lalu? Dia ternyata sudah benar-benar melupakanku. Dia sudah bahagia.
Ann
menatap Dennis penuh selidik, “Kau pasti juga sudah punya pasangan kan? Bawa saja
dia ke pestaku besok.”
“Uhm...iya,
baiklah.”
“Kalau
begitu sampai jumpa lagi besok. Senang bisa bertemu denganmu lagi, Dennis.”
Ann
bangkit dari kursinya sambil menarik kalung anjingnya, “ayo, Speed.” Lalu mereka pergi meninggalkan Dennis merenung
sendirian.
Aku hanya masa lalu
baginya....tidak lebih. Seharusnya aku rela melihatnya bahagia seperti sekarang
ini, tapi aku tidak bisa. Terkutuklah aku akibat dari semua perbuatanku
padanya....
***
Jam tujuh
malam hujan turun deras. Dennis berlari-lari kecil memasuki hotel berbintang
5 itu
sambil menutupi kepalanya dari rintik hujan. Beberapa pandangan mata yang
tertuju padanya menatapnya sinis. Mungkin dikira mereka Dennis salah masuk
hotel. Untuk sesaat Dennis memang jadi ragu, tapi setelah dipikir-pikir ia
tetap yakin harus datang ke pesta ulang tahun Ann. Maka ia menyeret kakinya
masuk ke dalam sana. Ia terperangah melihat pesta ulang tahun yang digelar di
depan matanya itu. Begitu meriah, begitu mewah. Semua yang
hadir di
sana mengenakan pakaian formal mereka. Yang wanita memakai gaun, yang pria
memakai
jas. Dennis merasa ciut, ia hanya memakai kemeja dan celana biasa. Itupun sudah
agak basah karena tadi kehujanan. Ia sama sekali tidak menyangka pesta ulang
tahun Ann ini bakal dilangsungkan sangat formal layaknya sebuah perjamuan makan
malam. Tadinya ia menyangka hanya pesta kecil-kecilan dan hanya dihadiri
beberapa teman dekat saja. Tapi sejauh mata memandang, banyak orang-orang
penting yang hadir di sana. Orang-orang yang Dennis yakin sama sekali tidak
dikenal Ann. Mungkin rekan bisnis Papanya, mungkin kerabat jauh.....Ah bodo
amat!!
Sial....kenapa aku bisa muncul di
sini dengan dandanan lusuh begini?!! Aku seperti
orang tolol saja!!
Dennis
mencoba tetap cuek, tidak memperdulikan tatapan mata orang-orang di sekitarnya.
Ia
mencoba mengalihkan pandangannya menyapu seisi ruangan itu untuk mencari Ann.
Yang ia
temukan justru Emma. Emma melambai pada Dennis dari kejauhan. Seperti biasa,
penampilan Emma sangat luar biasa malam ini. Menjerat mata setiap pria yang
melihatnya. Ia tidak pernah kehilangan pesonanya. Dennis membalas lambaiannya.
Kikuk. Lalu ia kembali mengedarkan pandangannya mencari Ann. Yang dicari
ternyata ada di ujung ruangan, memegang segelas anggur dan tengah
bercakap-cakap dengan seorang pria paruh baya yang wajahnya kerap muncul di
sampul majalah bisnis. Pria tua itu mengucapkan selamat ulang
tahun pada Ann. Ann berterima kasih dan sedikit bercakap-cakap dengannya, lalu
ia menoleh ke arah lain dan tidak sengaja pandangan matanya bertemu dengan
Dennis. Ann tersenyum kecil pada Dennis. Lalu ia dengan sopan berpamitan pada
pengusaha gaek itu, ia menghampiri tempat Dennis. Langkahnya begitu anggun
dengan rambut yang tergerai indah dan postur tubuh yang proposional dengan
balutan gaun hitam yang dirancang khusus untuknya.
Beberapa
orang tersenyum padanya dan membukakan jalan untuknya. Ann tersenyum pada
mereka satu persatu. Sangat anggun, sangat karismatik. Hingga ia sampai di
depan Dennis, beberapa pasang mata terheran-heran. Dennis tak sanggup menahan
debaran jantungnya, penampilan Ann membuatnya merasa kagum campur tegang.
“Kau
datang juga akhirnya,” sapa Ann.
“Iya.”
“Apa di
luar sedang hujan?” Ann mengamati kemeja biru Dennis yang agak basah.
“Iya,
deras sekali. Untung saja aku tidak basah semuanya. Pestamu kelihatannya sangat
meriah.”
Ann
mengendik bahu, “Aku cuma terima jadi. Temanku yang mengurus semuanya, ada beberapa
undangan yang bahkan tidak kukenal. Ya apa boleh buat.” Ia tertawa, “ini resiko
kalau semuanya diatur orang lain. Oh ya, kau datang sendiri?”
“Iya, aku
sendiri.”
Untung
Ann tidak menanyai kenapa Dennis tidak punya pasangan. Ann hanya mengangkat
gelas anggur merahnya, “Kau mau kuambilkan minum?”
”Oh
tidak, terima kasih. Nanti aku bisa ambil sendiri.”
Seorang
undangan permisi lewat, Ann memberinya jalan. Harum parfum lembut Ann membius
Dennis saat gadis itu mendekat padanya. Untuk pertama kalinya mereka nyaris bersentuhan.
Tapi Dennis segera mundur.
“Ann,”
seorang pria muda tampan dengan setelan jas mahalnya tiba-tiba datang dari belakang.
Tampan dan rapi, wajahnya masih muda, mungkin hanya tua setahun di atas Ann. Ia
menghampiri Ann dengan wajah cemas, “kau di sini rupanya. Ayo, sudah saatnya kau
potong kue. Semuanya sudah hampir mati kelaparan, termasuk aku.”
Dikiranya
Dennis itu pelayan!! Dennis tercengang memegang gelas itu, sepenuhnya merasa
dipermalukan. Separah itukah penampilannya hingga sampai-sampai ada yang
menduganya pelayan?
Kontan
saja Ann menatap Dennis dengan penuh rasa bersalah, cepat-cepat ia merebut kembali
gelas minumannya dari tangan Dennis. Ia menoleh pada pemuda tadi, “Calvin, dia
ini tamuku.”
Pria
bernama Calvin itu termangu, lalu berbalik menatap Dennis, “Waduh, aku minta maaf!!
Aku benar-benar minta maaf. Tadi aku kira...”
”Tidak
apa-apa.” potong Dennis sambil tersenyum.
Sial....malu-maluin
aku saja..
“Aku
Calvin.”
”Dennis.”
Mereka
saling berjabat tangan. Kemudian Ann menatap Calvin dan tersenyum kecil pada
Dennis, “Calvin ini tunanganku.”
Dennis
terpaku di tempatnya.
Jadi ini dia tunangan Ann...
Tiba-tiba
saja Dennis merasa kecil dan tidak ada apa-apanya di depan Calvin. Pria muda
itu begitu rapi dan berwibawa. Tipe pria yang pantas berdiri di samping Ann. Tipe
menantu idaman semua orang tua. Muda, tampan, dan tentu saja kaya. Benar-benar fantastik,
nyaris sempurna meskipun dipandang dari berbagai sudut. Dennis merasa seolah-olah
pria ini terlalu bersinar di depan matanya hingga menyilaukan dan membuatnya
nyaris seperti sebongkah batu tak berharga. Sungguh kontras perbedaan diantara
mereka.
Bagaimana
mungkin aku bisa bersaing dengan pria seperti itu? Dia calon dokter, aku cuma
si tukang servis bau oli. Kasian benar....
Calvin
pun tidak mau kalah mengamati Dennis dari balik kacamata tipisnya, “Teman sekolahmu?
Kenapa aku belum pernah melihatnya?”
”Bukan teman
sekolah. Dia..” Ann kehilangan kata-kata, “dia teman lama.”
Dennis
baru mengerti, ternyata Ann tidak pernah menceritakan apa-apa tentang dia pada tunangannya.Calvin mengangguk, kemudian sambil merangkul pinggang Ann ia
mencoba berbasa-basi pada Dennis, “Teman lama? Kalau begitu aku senang sekali
bisa bertemu dengan teman lama Ann. Aku mewakili Ann mengucapkan terima kasih
karena kau sudah mau dating di pesta ini. Kau suka pestanya?”
“Ya,
tentu saja. Pesta yang sangat menarik.”
Terlalu menarik hingga aku dikira
pelayan olehmu...
“Kau
kerja di mana?” tanya Calvin lagi.
Nah, ini dia....pertanyaan yang paling
tepat untuk menyerangku!
Tapi
Dennis tetap kelihatan cool, “Aku kerja jadi di pusat reparasi peralatan
elektronik.”
”Tukang
servis maksudnya?” serang Calvin tanpa sadar, “bukankah itu pekerjaan yang tidak
menjanjikan? Pasti berat juga ya kerja seperti itu? Salah sedikit saja
pelanggan bisa complaint. Sudah capek-capek kerja tapi gaji juga tidak terlalu
memuaskan. Apa kau tidak berminat cari kerja di tempat lain? Kau kelihatannya
sangat berbakat, mungkin masih banyak pekerjaan lain yang lebih cocok untukmu.”
”Tapi aku
menyukai pekerjaanku.” jawab Dennis tegas.
“Apa yang
biasanya kauperbaiki?”
”Apa
saja, dari yang ringan sampai yang berat-berat.”
Calvin
menengok Ann, “Kalau begitu....sepertinya dia bisa memperbaiki Selina.”
Dennis
mengernyit. Apa itu?
Tapi Ann
kelihatannya tidak setuju dengan ide Calvin. Baru saja ia mau mencegahnya, tapi
Calvin sudah keburu menjelaskannya pada Dennis, “Kau bisa memperbaiki sebuah jam
tua? Aku baru saja memboyongnya dari London. Jam itu sudah tua sekali, bahkan hampir
dimasukkan ke museum barang-barang seni, tapi bentuknya masih sangat indah dan
klasik. Aku tahu Ann menyukainya, jadi aku membelinya untuk Ann. Jam itu sudah kuno
dan tidak bisa berfungsi lagi, tapi kata pemiliknya masih bisa diperbaiki.
Mungkin dengan sedikit sentuhan orang sepertimu...Kau tahu kan, aku calon
dokter, aku tidak mengerti apa-apa tentang mekanik.”
”Tidak
masalah, aku akan mencobanya.”
”Sungguh?!
Bagus lah kalau begitu. Datanglah ke rumah Ann besok, terserah mau jam berapa
saja.”
Ann kelihatan
tidak senang namun tak mampu mencegah ide Calvin.
“Ann,
rasanya semua undanganmu sudah tidak sabar lagi ingin melihatmu potong kue.”
“Dennis,
kalau kau tidak keberatan aku mau membawa Ann ke sana sebentar.”
”Tentu.
Aku tidak keberatan.”
Calvin
mengandeng tangan Ann meninggalkan Dennis. Sedikitpun Ann tidak menoleh padanya.
Ia maju ke depan bersama Calvin dan dalam sekejap saja semua undangan bertepuk
tangan riuh menyambutnya. Ann mengedarkan senyumnya ke seluruh tamu undangan,
diikuti Calvin. Sungguh pasangan yang serasi. Siapa pun akan berpendapat yang
sama. Setelah memotong kue ulang tahunnya, seorang teman Ann berseru agar
Calvin memberikan hadiah ulang tahunnya di depan sana agar mereka bisa
menyaksikannya bersama-sama. Kemudian Calvin mengeluarkan kado ultahnya untuk
Ann.
Sebuah kalung
berlian yang berkilau indah. Seluruh undangan ikut terpukau melihat kalung pemberian
Calvin itu. Beberapa undangan wanita jadi merasa iri karena Ann begitu beruntung
bisa memperoleh kalung seindah itu. Sedangkan yang pria merasa salut pada Calvin
yang sanggup memberi hadiah semahal itu untuk pacarnya.
Calvin
memakaikan kalung itu di leher Ann dengan lembut, kemudian mengecup keningnya.
Seluruh undangan kembali bertepuk tangan. Entah mengapa Dennis merasa hatinya
terbakar. Ia tidak bisa menikmati pemandangan semacam itu dan berakting
seakan-akan ia baik-baik saja.
Calvin
belum selesai rupanya, “Aku mau mengumumkan sesuatu pada kalian semua, para undangan
yang terhormat. Mungkin ada beberapa orang yang sudah tahu, tapi aku rasa aku
ingin membuatnya menjadi lebih resmi. Aku ingin semua tahu betapa beruntungnya
aku ini,
karena bisa mendampingi sosok sesempurna Ann. Aku pertama kali bertemu dengannya
dua tahun yang lalu. Waktu itu aku berkata pada diriku sendiri, ‘Calvin, wanita
inilah yang tepat untukmu’. Dan aku ternyata memang benar. Tidak ada satu haripun
yang kulewati tanpa memikirkan bahwa akulah pria yang seharusnya
mendampingi
Ann. Melewati hari-hariku bersamanya membuatku merasa semakin membutuhkannya.
Mungkin kedengarannya terlalu melankolis, tapi percayalah suatu saat nanti
kalian pun akan merasakannya yang sama kalau kalian sudah menemukan sosok
yang
tepat itu.”
Semuanya
tersenyum. Dennis tidak tersenyum sedikitpun. Hatinya menahan perih. Haruskah
ia menyaksikan semua itu? Menyaksikan ada pria lain yang mengisi kehidupan Ann
selain dia? Sanggupkah ia menerima kenyataan bahwa dirinya memang sudah lenyap
dari hidup
Ann?
“Intinya,”
lanjut Calvin, “setelah sekian lama kami pacaran, akhirnya dua bulan yang lalu aku
memberanikan diri untuk melamarnya. Dan aku sungguh beruntung....karena dia menerima
lamaranku. Kini kami resmi bertunangan.”
Calvin menatap
Ann lama, Ann tersenyum kemudian mereka berpelukan singkat. Beberapa hadirin
berseru kaget mendengar pengumuman pertunangan itu, tapi tak lama kemudian gemuruh
tepuk tangan kembali mewarnai setiap sudut ruangan mewah itu. Satu persatu
undangan menghampiri kedua pasangan itu dan menyalami mereka.
Calvin dan
Ann tersenyum dan tak henti-hentinya menerima ucapan selamat. Dennis mendesah
panjang, kemudian langsung beranjak pergi dari tempatnya berdiri. Tidak ada
gunanya ia terus berlama-lama disini, rasanya ia tidak perlu menyaksikan semuanya
lebih jauh lagi. Itu sudah lebih dari cukup untuk malam ini. Datang ke pesta ulang
tahun ini rasanya benar-benar kesalahan besar bagi Dennis.
Ann menerima
ucapan selamat dari kerabat dekat Calvin sambil terus mengamati pintu keluar di
ruangan itu. Ia melihat Dennis berjalan seorang diri meninggalkan pestanya.
Di luar
hotel itu.. “Dennis, tunggu!!”
Dennis
berhenti, menoleh ke belakang dan kaget melihat Ann berlari-lari kecil sambil mengangkat
ujung gaunnya. Ia berlari menyusul Dennis tanpa menghiraukan gerimis yang masih
turun sejak tadi.
“Kenapa
kau sudah mau pergi? Pestanya baru saja dimulai.”
Meskipun
Dennis tidak mengerti mengapa Ann mau repot-repot mencegah tamunya pulang, tapi
ia terpaksa mengarang cerita, “Tadi aku baru ingat ada pekerjaan mendadak dari
Bosku. Aku harus segera kembali ke sana. Maaf aku tidak bisa berlama-lama di
pestamu.”
Ann
terlihat maklum, “Kau pulang bukan karena ucapan Calvin tentang pekerjaanmu
tadi kan?”
”Apa?
Tentu saja bukan,” jawab Dennis, berusaha terdengar wajar, “aku samasekali
tidak tersinggung.”
aku pergi karena tidak mau
melihat perlakuan manis pria itu padamu. Aku merasa tidak berdaya, aku cemburu.
“Syukurlah....aku
kira kau tersinggung karena ucapan Calvin tadi.”
Dennis
memandang jauh ke dalam matanya, kemudian berpaling. “Aku ucapkan selamat padamu,
untuk pertunangan itu.”
“Terima
kasih.”
”Apa dia
benar-benar pilihanmu yang paling tepat?” suara Dennis
hanya
sedikit lebih keras dari sebuah bisikan.
“Apa
maksudmu?”
”Maksudku......sejujurnya
aku berat menerima semua ini. Aku kaget. Kita berpisah selama bertahun-tahun ,
lalu kemarin kita bertemu untuk pertama kalinya, dan tiba-tiba saja kau bilang
kau sudah bertunangan. Semuanya itu terlalu ganjil bagiku.”
”Jadi ini
alasanmu meninggalkan pesta itu kan?” Ann tertawa pahit, “memangnya kenapa
kalau aku sudah bertunangan? Apa aku salah kalau dalam waktu lima tahun itu
ternyata aku sudah berhasil membangun kembali hidupku? Apa aku salah dan tidak
seharusnya
memberitahumu
kalau aku sudah punya kekasih baru?”
“Bukan
itu maksudku. Aku hanya...sulit menerimanya.”
”Jangan
konyol, Dennis....kau tentunya tidak berharap aku terus hidup dalam kenangan pahit
darimu kan?”
Dennis
termangu kaget, ia menangkap sorot mata yang menyakitkan dari gadis itu. Tapi hatinya
juga ikut menanggung rasanya.
“Aku bisa
melanjutkan hidupku kembali, apa yang terjadi di antara kita lima tahun yang lalu
sedikitpun tidak bisa menghalangiku untuk kembali meraih kebahagiaan itu. Kau jangan
berpura-pura....sebenarnya kau juga kan? Lalu kenapa kau harus merisaukan
masalah
pertunanganku itu?”
“Kau
benar.” Dennis tak mampu menumpahkan seluruh isi hatinya saat itu, ia hanya sanggup
berpura-pura tak peduli, “apa yang terjadi di antara kita memang hanya masa lalu.
Kalau kau bisa melupa
kannya,
kenapa aku tidak?”
Ann tersenyum
lagi, kali ini senyum yang dirasakan Dennis sengaja untuk menyerangnya.
“Lima tahun
yang lalu kau bilang padaku di rumah sakit itu, bahwa kau tidak bersungguh-sungguh
mencintaiku, aku harus melupakanmu dan masing-masing dari kita harus melanjutkan
hidup kita kembali. Aku memang rapuh saat itu, tapi setelah berpisah denganmu
aku perlahan-lahan bisa menjadi lebih kuat. Dan akhirnya aku bisa melupakanmu.
Kau jangan salah paham, Dennis, jangan kau kira aku bertunangan dengan Calvin hanya
untuk balas dendam atau pelarian, aku bersungguh-sungguh menjalin hubungan
dengannya.”
Dennis
membisu.
“Sekarang
di antara kita tidak apa-apa lagikan? Masing-masing dari
kita
sudah dewasa, aku harap kau bisa mengerti kalau aku berhak mempunyai hidup yang
baru.”
”Tentu saja
kau berhak, dan aku tidak akan menghalangimu.” Dennis mengeluarkan sebuah kotak
kecil dari saku celananya, “kau benar, di antara kita memang tidak ada apa-apa
lagi. Aku akan mendoakan kebahagiaanmu dengan Calvin. Ini kado ulang tahunmu. Meskipun
aku tidak bisa memberimu kalung berlian seperti itu, tapi kuharap kau akan suka.”
Ann
menerima kado mungil itu tanpa suara.
“Selamat
ulang tahun, Ann.” Dennis tersenyum tulus padanya, kemudian beranjak pergi dengan
hati yang hancur.
Ann
berdiri di sana seorang diri. Ia perlahan-lahan membuka kotak di tangannya itu.
Sebuah gelang perak mungil yang berhiaskan
hati dan
bintang-bintang. Indah sekali.
***
Selina
yang dimaksud oleh Calvin adalah sebuah jam tua yang besar berdiri di ruang tamu
Ann. Konon usianya sudah sangat tua hingga hampir dimasukkan ke museum barang-barang
seni. Tapi benar kata Calvin, meski usianya sudah sangat tua tapi kondisinya
masih bagus seolah-olah tidak termakan usia. Jam antik ini dibeli oleh Calvin di
London khusus dihadiahkan untuk Ann.
Dennis
menyentuh setiap bagian dari jam tua itu dengan hati-hati. Ia mengagumi setiap detailnya.
Benar-benar barang klasik yang sayang kalau sampai dimasukkan ke museum. Tapi
yang pasti, tidak gampang untuk memperbaikinya.
Dennis
mendesah kecil sambil membuka kotak peralatannya. Sekilas ia mengintip Ann dari
pantulan kaca di jam antik itu. Dilihatnya Ann sedang duduk di sofanya sambil mengerjakan
sesuatu dengan komputer laptopnya. Penampilannya kelihatan segar dengan pakaian
santai dan rambut yang dijepit ke atas. Namun wajahnya sangat serius.
Tiba-tiba
Ann mendongak, dan dalam sekejap tatapan mereka saling bertabrakan. Dennis
segera memalingkan wajahnya.
Mungkin
datang ke rumah ini bukan ide yang baik. Seharusnya aku menolak tawaran Calvin
kemarin. Kalau begini suasananya jadi
tidak
enak. Ann kembali menekuni laptopnya. Tapi beberapa
menit
kemudian ia pindah ke ruangan yang lain. Dennis menghela nafas lega.
“Hey
Speed, kau dari tadi tetap di sini terus, mau melihatku bekerja ya?” Dennis
mulai membongkar jam antik itu sambil mengajak ngobrol Speedy yang sejak tadi
terus tiduran di dekatnya, “tolong beritahu aku satu alasan, mengapa aku bisa
dengan tololnya datang
ke rumah ini? Bukannya serius kerja malah lihat-lihat
orangnya. Tuh, kau saja sudah tidak tahan mau menertawai aku kan? Kuberitahu
ya, jadi anjing peliharaan itu sebenarnya jauh lebih enak daripada jadi manusia.
Rumah ada, makanan selalu disediakan, kotoran selalu dibersihkan...kurang apalagi?
Aku saja harus kerja keras baru dapat makan. Lagipula jadi anjing tidak perlu
repot-repot pusi
ngin
urusan cinta.”
Dennis
tertawa sambil mengelus-ngelus anjing itu. Speedy bergelut manja di pahanya. Tak
lama kemudian Calvin mendadak muncul dari pintu masuk rumah. Ia terlihat agak terkejut
melihat kehadiran Dennis di sana, ”Oh sudah datang rupanya. Pagi-pagi sekali?”
”Iya,
mumpung masih belum banyak orderan.”
”Mana Ann
?”
”Tadi ada
di sini, tapi sudah pergi ke dalam sana.”
Calvin
mengintip ke atas tangga,”Mungkin sedang ganti baju di kamarnya...”
Kemudian
pemuda itu menghempaskan dirinya di atas sofa empuk. Ia menyilangkan sebelah
kakinya, duduk mengamati pekerjaan Dennis tanpa suara. Lalu Speedy dating menghampirinya.
“Speed!
Jangan kotori pakaianku!” Calvin mengusirnya, “dasar anjing manja.”
Dengan
berat hati Speedy meninggalkannya dan beralih kembali ke tempat Dennis.
“Bagaimana
jamnya? Bisa diperbaiki?”
”Aku
belum begitu yakin, tapi akan kucoba.”
”Ayolah...aku
yakin tukang sepertimu pasti bisa memperbaikinya. Jam antik itu saying kalau
sampai tidak bisa jalan.”
Dennis
tidak menjawabnya, sibuk.
“Pesta kemarin
meriah sekali ya, aku sangat senang malam itu. Akhirnya aku bisa mengumumkan
pertunanganku secara
resmi
pada semua orang.”
”Aku lupa
mengucapkan selamat.”
Ann memasuki
ruang tamu itu, menatap Calvin, “Kau sudah datang. Kenapa tidak memanggilku?”
”Aku kira
kau lagi ganti baju. Loh? Kenapa belum ganti baju?”
Calvin
melirik arlojinya, “satu jam lagi loh.”
“Aku tadi keasikan bikin tugas,” jawab Ann sambil
memasuki ruang makan keluarga. Calvin mengikutinya.
Sekedar
informasi, ruang tamu dan ruang makan hanya bersebelahan dan tanpa sengaja pun
Dennis bisa mendengar semua percakapan mereka.
“Kau
kenapa? Sepertinya tidak terlalu niat pergi? Kau tidak mau menemui orang
tuaku?”
“Bukan
begitu. Aku tadi cuma kelupaan.”
“Kalau begitu...”
Ann dipeluknya dari belakang, “kuharap kau bisa segera ganti baju...lalu kita
berangkat menemui ayah-ibuku. Mereka semua sudah tidak sabra menemuimu, Ann.
Kalian kan cuma pernah
ketemu 3 kali
waktu di London itu. Ibuku bilang dia sudah kangen dengan calon menantunya.
Nah, lalu sehabis menemui mereka....aku akan membawamu makan-makan direstoran
Italy yang kau bilang enak itu.”
Ann
tersenyum kecil ,”Iya...iya...aku ganti baju dulu.”
”Nah,gitu
donk. Yang cepat ya, aku tunggu.” Calvin melepaskan pelukannya, “jangan kelamaan
ya.”
Setelah
Ann naik ke atas, Calvin kembali keruang tamu dengan wajah berseri-seri. Ia mengamati
Dennis yang sedari tadi terus jongkok memperbaiki jam itu, “Kau tidak keberatan
kan, kerja sendirian? Nanti aku dan Ann mau pergi ke rumah orang tuaku. Kalau
pekerjaanmu belum selesai dan kau sudah mau pulang, pulang saja. Ah...rasanya aku
sudah tidak sabar membawa Ann pada kedua orang tuaku. Ann itu benar-benar tipe yang
disukai mereka. Mereka in
gin kami
segera menikah.”
Dennis
terus berkutat dengan peralatannya.
“Siapa
namamu kemarin? Aku lupa.”
”Dennis.”
”Oh
iya....Dennis. Hey, ngomong-ngomong apa sekarang kau tengah menjalin hubungan spesial
dengan seseorang?”
”Tidak.
Kenapa?”
”Kenapa
tidak ada? Setahuku pekerjaanmu itu tidak terlalu menyita waktu. Sekali-kali ambil
cuti saja, bekerja terlalu keras tidak baik bagi kehidupan sosialmu.”
Dennis
tersenyum simpul, “Aku tidak sepertimu. Kalau aku tidak kerja, dari mana aku makan?”
”Hm...susah juga ya. Seperti yang kukatakan kemarin,
mungkin ada baiknya kau cari pekerjaan yang lain saja. Jadi tukang servis itu
tidak ada untungnya. Apa kau menyelesaikan kuliahmu ?”
”Tidak,
putus tengah jalan.”
”Kenapa?
Tidak cukup biaya? Sayang sekali. Padahal dengan kuliah tinggi kita baru bisa dapat
gelar dan mencari pekerjaan yang layak.”
Apa maksudnya?! Apa pekerjaanku
ini tidak layak?!!
“Oh
ya...kata Ann kau teman lamanya. Apa kaubisa sedikit menceritakan tentang Ann
dimasa-masa remajanya? Aku yakin kau pasti sangat mengenalnya.”
”Kau ini
kan tunangannya. Kau pasti jauh lebih mengenalnya.”
”Entahlah...”
wajah Calvin sedikit berubah, “kadang Ann dari luar memang kelihatan adem ayem saja...tapi
aku tidak terlalu yakin apa selama ini dia memang sudah terbuka padaku. Dia itu
misterius, aku merasa masih banyak rahasia yang ia sembunyikan dariku. Aneh
juga ya, apa mungkin aku yang terlalu banyak pikiran?”
“Seharusnya
kau tidak memikirkan yang bukan-bukan. Dia itu tunanganmu, sudah pasti dia akan
terbuka padamu. Beri dia kesempatan karena semuanya tidak bisa instan. Kadang
kita tidak bisa memaksa seseorang untuk selalu terbuka pada kita, karena dalam diri
seseorang pasti ada sesuatu yang lebih baik disimpan sendiri.” Dennis melamun meresapi
ucapannya sendiri.
Calvin
menatapnya tajam.
“Ah
sudahlah, aku memang tidak pandai memberi nasehat.”
Di saat yang
bersamaan Ann muncul di tengah-tengah mereka. Ia tersenyum ringan pada Calvin,
“Yuk, berangkat.”
Calvin
mengandeng tangannya, “Ayo.”
Ann pergi
begitu saja tanpa menghiraukan keberadaan Dennis.
Setelah
keduanya pergi, Dennis melempar peralatannya ke lantai.
Ia tidak
capek, tapi hatinya yang capek.
“Aku
harus benar-benar melupakan majikanmu,” ia kembali mengelus Speedy, “kau lihat sendiri
kan? Dia samasekali sudah melupakanku. Kalau dia bisa, kenapa aku tidak? Kadang
aku pikir...lebih baik pertemuan kami yang kemarin lusa itu tidak perlu terjadi
sama sekali. Memang aku yang salah, tidak seharusnya aku melepaskan dia begitu
saja lima tahun yang lalu. Manusia memang bodoh, Speed. Sebodoh
aku yang melepaskan cinta tanpa berusaha mempertahankannya. Kadang manusia
harus kehilangan dulu, baru
bisa
merasakan betapa berartinya cinta itu.”
Speed menatapnya
bingung.
***
Kira-kira
pukul 2 siang Dennis baru pulang dari rumah
Ann. Jam
yang diberi nama Selina itu belum bisa diperbaiki sampai selesai, mungkin besok
baru bisa dilanjutkan lagi. Karena Ann belum pulang, Dennis hanya berpamitan
dengan pembantu rumah tangganya.
Pembantu
itu membukakan pintu pagar untuk Dennis. Tapi sungguh di luar dugaan, tepat di
depan pintu pagar yang tinggi menjulang itu,
Dennis
berpas-pasan dengan seorang pemuda yang rasanya masih segar di ingatannya. Pemuda
itu melotot marah melihat Dennis, “Kau?! Apa yang kau lakukan di sini!”
Dennis menyilang
kedua tangannya di depan dada, “Oh...rupanya kau, bocah reseh. Sudah lima tahun
akhirnya kita bertemu lagi.”
Pemuda
itu tidak lain lagi adalah Josh. Mungkin ia yang paling tidak banyak berubah diantara
mereka semua, masih dengan rambut cepak dan wajah tampannya yang babyface, “Hey
brengsek, ngapain di rumah Ann?! Sudah lima tahun kenapa kau bisa tiba-tiba muncul
di depan mataku?! Kukira kau sudah mati!”
“Lalu
maumu apa? Berantem lagi kayak dulu!?”
”Jawab
pertanyaanku dulu! Kenapa kau bisa ada di sini!”
Dengan
santai Dennis mengangkat kotak peralatannya tinggi-tinggi, “Selamat berkenalan dengan
tukang reparasi.”
”Apa-apaan
ini...”
”Aku
datang ke sini untuk memperbaiki jam. Memangnya kau kira aku maling?”
“Memperbaiki
jam?” Josh tertawa mengejek, “Kenapa bisa serba kebetulan begitu ya? Selama
lima tahun kau lenyap dari kehidupan Ann, lalu di siang bolong begini tiba-tiba
kau muncul di rumahnya untuk memperbaiki jam. Dasar tidak punya harga diri.”
”Apanya
yang tidak punya harga diri? Aku heran...kenapa di dunia ini ada orang sepertimu
yang selalu sok ikut campur urusan orang lain. Urusan yang lalu itu hanya diantara
aku dan Ann, jangan sok tau!!”
“Aku sok
tau?!”
“Seperti anak kecil saja....Minggir,” Dennis
menepis Josh menyingkir dari jalannya. Josh merasa tidak senang, ia menarik
kemeja Dennis dan menyeretnya ke hadapannya.
Di saat
yang bersamaan datang mobil sedan milik Calvin. Calvin membunyikan klakson kecil
memanggil mereka. Sementara Ann menatap Dennis dan Josh dengan cemas. Ia segera
turun dari mobil dan menghampiri mereka sebelum terjadi perkelahian lagi
seperti dulu.
“Josh,
kenapa kau bisa di sini?”
”Seharusnya
aku yang tanya, kenapa bajingan ini bisa ada di rumahmu!”
”Dia datang
untuk memperbaiki jam kuno pemberian Calvin.”
”Memangnya
tukang reparasi di kota ini sudah mati semuanya!? Kenapa harus manggil dia!”
”Bukan
aku, tapi Calvin yang memintanya.”
Josh
menoleh ke arah mobil Calvin. Calvin ikut keluar, ia memandang mereka dengan tatapan
bingung.
“Tolong
jangan bikin keributan di sini.” Ann memelas.
Josh
melepaskan cengkramannya, dengan sangat terpaksa ia akhirnya mau membebaskan Dennis.
Tapi kedua pemuda itu masih terlibat adu mata yang sengit. Wajah keduanya terlihat
penuh amarah. Mau tak mau Ann terpaksa menarik Dennis menjauh dari Josh,
“Dennis, pulanglah. Aku tidak mau kalian bertengkar lagi seperti dulu.”
”Aku memang
sudah mau pulang. Pekerjaanku belum selesai tapi aku akan menyelesaikannya
besok,” Dennis melotot pada Josh, “bilang ke temanmu itu, lain kali jangan suka
reseh!”
Tanpa
curiga sedikitpun, Calvin menghampiri Josh, “Ada apa? Kenapa tegang begini?”
”Tegang
apaan?! Kau ini bodoh sekali, kalau aku jadi kau...aku akan sewa tukang servis lain!
Aku tidak akan membiarkan bajingan itu
menginjak
kakinya lagi di rumah Ann!”
”Memangnya
kenapa?”
“Ya
ampun...dia itu kan pacar pertamanya Ann! Masak kau tidak tahu sama sekali?!
Ann pernah punya kenangan yang pahit dengannya! Aku tahu dia pasti masih
mengincar Ann!”
Calvin
terperangah, “A...apa kau bilang?”
“Kau
tidak tuli kan? Awasi orang itu baik-baik, jangan sampai dia dekat-dekat dengan
tunanganmu! Ann itu pernah punya cerita dengannya, dan kujamin kau akan
menyesal kalau cerita itu sampai terulang lagi.”
Calvin memasukkan
tangannya ke dalam saku celananya, matanya tajam mengamati Ann yang sejak tadi
terus berada disitu membujuk Dennis untuk pergi. Tiba-tiba saja ia sadar sesungguhnya
ia belum mengenal Ann dengan jelas. Matanya lalu bergantian mengawasi Dennis.
Ada apa sebenarnya antara kau dan
tunanganku ?!
***
Josh berkacak
pinggang menatap Ann di ruang tamu yang sepi itu, “Aku tidak mengerti kenapa
kau tidak mau menceritakan tentang Dennis pada Calvin.”
”Buat
apa? Tidak ada yang perlu diceritakan.”
”Tapi dia
itu kan tunanganmu. Apa kau tidak merasa aneh telah merahasiakan sesuatu padanya?”
”Josh,
aku tidak merahasiakan apapun pada Calvin. Aku tidak memberitahu dia karena aku
rasa semua itu hanya kejadian kecil di masa laluku, tidak ada yang istimewa
sampai harus diceritakan padanya. Memangnya aku harus cerita semua kejadian
masa laluku
sampai
sedetail-detailnya? Lagipula aku tidak pernah menganggap antara aku dan Dennis pernah
punya hubungan khusus, karena kuanggap semua itu palsu.”
”Tapi
kau....kau tentunya tidak berpikiran ingin kembali lagi pada Dennis kan?”
Ann
menoleh kaget, “Tentu saja tidak!”
“Syukurlah...aku
tidak bisa membayangkan kalau kau sampai punya pikiran seperti itu.” Josh
mengaruk kepalanya.
“Oh ya,
buat apa kau datang ke rumahku?”
”Cuma mau
minta maaf kemarin aku tidak bisa
datang ke
pesta ulang tahunmu. Aku lagi banyak kerjaan.”
Ann
tersenyum penuh selidik, “Banyak kerjaan atau banyak acara? Sama Sherly kan?”
Sherly adalah
nama pacar Josh. Mereka berkenalan setengah tahun yang lalu di kantor tempat
kerja Josh, lalu mulai pacaran serius sejak seminggu ini. Tentu saja Josh sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi terhadap Emma, perasaan itu
sudah sirna sejak mereka sama-sama dewasa. Ia bahkan nyaris kehilangan kontak
dengan Emma.
“Kapan
nih nyusul?” Ann memamerkan cincin tunangannya sambil tertawa.
”Waduh....aku
kan tidak seperti Calvin, harus kumpulin duit dulu baru berani married. Jadi
Calvin sih enak....segala-galanya udah punya. Ayahnya saja pejabat....Oh ya,
kalian kapan nih marriednya? Disini atau di London?”
Ann
mengendik bahu, “Tidak tahu.”
“Kelihatannya
kau tidak terlalu berminat...”
”Bukan
begitu. Aku ini cuma terima apa maunya dia. Katanya sih bulan depan, mungkin di
London.”
”Selamat
ya....aku senang akhirnya kau bisa menemukan pasangan seperti Calvin. Dia itu
tipe pria yang tidak akan me ngecewakanmu. Kau sangat beruntung.”
“Kau
benar. Aku memang sangat beruntung.” Ann tersenyum simpul.
Sangat beruntung...
***
0 komentar:
Posting Komentar