Senin, 03 Maret 2014

dear love (part III)

Diposting oleh widya emblogs di 10.47


Ann berkemas-kemas sehari sebelum keberangkatannya. 2 koper ukuran besar sudah berjejer rapi di kamarnya. Ia hanya perlu memasukkan beberapa baju tebal lagi, setelah itu selesai. Ann mengambil bingkai foto kesayangannya yang berisi foto teman-temannya. Ia tersenyum geli melihat pose jenaka mereka di dalam foto itu. Melamun sejenak, lalu memasukkan bingkai itu ke dalam kopernya.

Ia mendesah kecil, rasanya berat sekali meninggalkan semua ini. Keluarganya.....saudaranya....teman-temannya..... Sepertinya  baru kemarin mereka berkumpul bersama tapi besok ia sudah harus berpisah dengan mereka. Ann menebak kira-kira perubahan apa yang akan mereka alami selama beberapa tahun ke depan. Tapi mungkin ini lebih baik, siapa tahu dengan begini Ann bisa melupakan semua kejadian buruk yang pernah terjadi di sini.

Pintu kamar diketuk dari luar, tak lama kemudian Papa masuk ke dalam. Ia tersenyum kecil melihat koper-koper Ann, “Baru kemas kemas nih? Besok kan sudah mau berangkat. Cepat ya, rasanya baru kemarin kamu pakai seragam putih abu-abu....sekarang malah sudah mau kuliah.”

Ann tersenyum menimpalinya.
“Gimana perasaan kamu sekarang?”
“Maksud Papa?”

Papa duduk di tepi ranjangnya, “Yaa...perasaan kamu karena sudah mau pergi ke Inggris. Waktunya tidak singkat loh.”
”Aku bakal kangen sama teman-teman.”
”Sama Papa enggak kangen?”
”Ya kangen donk!” Ann tertawa sambil merangkul Papanya, “Sama Papa, sama Mama, sama Bi Sumi juga kangen!”
“Papa lega kamu sudah bisa tertawa. Baguslah....”
“Memangnya kenapa kalau aku tertawa?”
“Papa kira....kamu masih trauma sama peristiwa itu.”

Ann tersenyum simpul, “Aku sudah melupakannya, Pa. Aku sama sekali tidak memikirkannya lagi.”
”Sungguh?”
Ann melepaskan rangkulannya, kembali sibuk berkemas-kemas, “Sungguh. Aku memang tidak memikirkannya lagi.”
---------------

Sore itu saat Vincent sedang berjalan seorang diri di kampusnya, ia mendengar seseorang memanggil namanya dari belakang. Ia menoleh
mencari-cari si pemanggil, lalu terkejut melihat siapa orang itu. Emma berlari kecil menghampirinya dengan nafas tersengal-sengal, “Hh...hh...Aku sudah mencarimu ke mana-mana di kampus ini...ada yang harus kita bicarakan.....”
“Tentang apa?”
“Tentang semuanya, Vincent, tentang semuanya.”

Vincent kontan tersenyum lebar padanya. Di meja kantin itu Vincent menceritakan semuanya pada Emma dari awal. Semuanya. Tentang awal perkenalan mereka dengan Emma, saat mereka pertama kali mereka bertemu Ann, kemudian tentang niat mereka untuk menjebak Ann agar Papanya mau mengeluarkan uang buat Dennis, lalu tentang perubahan rencana mereka yang semata-mata karena Dennis jatuh cinta beneran pada Ann, dan yang terakhir saat Dennis terpaksa melukai Ann demi kebaikan Ann sendiri.

Emma tercengang mendengarnya. Meskipun ia agak tersinggung mendengar mereka pernah berniat memanfaatkan dirinya, tapi Emma lebih terkejut lagi karena Dennis sebenarnya mencintai Ann. Sebenarnya ia ragu untuk mempercayai semua ucapan Vincent, tapi sepertinya ia tidak punya alasan untuk tidak percaya.
“Apa ceritamu bisa dipercaya?”
“Coba pikir, Emma, apa untungnya bagiku mengarang-ngarang cerita seperti itu? Aku tidak berbohong sedikitpun! Dennis memang benar terjerat hutang ayahnya, dia memang butuh uang, tapi cek dari Papa Ann itu sama sekali tidak disentuhnya! Ia sedikitpun tidak mau memakai cek itu!”
“Tapi kenapa di rumah sakit itu...”
“Kan sudah kubilang, Dennis pikir dia tidak pantas mendampingi Ann. Dia berbuat itu semata-mata agar Ann bisa melupakannya! Lagipula itu permintaan Papa Ann. Dennis pikir benar juga, mungkin Ann memang tidak semestinya bersama dengannya, dia tipe cowo yang tidak punya masa depan.”

Emma mengerut kening, berpikir keras untuk memecahkan semua kesalahpahaman ini.
“Sampai sekarang pun Dennis masih belum bisa melunasi hutang-hutang ayahnya. Dia terpaksa bersembunyi selama sebulan ini.”
“Apa keadaannya baik-baik saja?”
“Tidak terlalu baik. Kau tahu, kadang saat kita melukai orang yang kita cintai, luka yang kita tanggung jauh lebih sakit daripada orang itu.”
“Apa Dennis tahu besok Ann sudah mau berangkat ke Inggris?”
Vincent mematung diam sebagai jawabannya.
“Aku tak akan membiarkan Ann pergi begitu saja tanpa mengetahui kebenarannya.”
“Kau mau membantunya?”
“Tentu.” Jawab Emma mantap.
---


Ann mengadakan acara perpisahan dengan beberapa teman akrabnya di salah satu restoran Jepang. Mereka berkumpul di sana memberi ucapan perpisahan terakhir buat Ann. Semua teman akrabnya hadir di sana kecuali Emma. Tapi sedikitpun Ann tidak curiga karena ia sudah menerima telepon dari Emma yang katanya bakal telat dikit.

“Ann harus sering-sering balik ke Indo ya, jangan mentang-mentang udah keasikan
kuliah di sana.”
”Iya, terus jangan lupa bawa oleh-oleh buat kita.”

Semuanya tertawa.
“Eh, aku kan ke sana buat kuliah!”
“Tapi enak juga ya jadi Ann. Bisa kuliah ampe ke Inggris segala, mana kuliahnya ambil jurusan kedokteran lagi!”
“Kan lulusnya lama, Ann.”
”Tidak masalah, itu kan cita-citaku sejak dulu.”
“Bagaimana pun juga kita semua salut, mungkin di angkatan kita ini cuma ada satu orang yang ambil kedokteran sampai ke Inggris.”
”Dan kita semua bakal kehilangan kau, Ann....”
“Ayo kita tos,” Josh bangkit berdiri sambil mengangkat gelas minumannya, “buat teman kita yang sebentar lagi bakal pergi lamaaaaa banget.”
“Buat Ann!!”

Ann mengikuti semua teman-temannya yang sudah berdiri sambil mengangkat gelas. Ia tertawa kikuk melihat pandangan mata semua pengunjung restoran yang tertuju pada mereka.
“TOOOSS !!!”

Kira-kira 30 menit kemudian akhirnya Emma datang juga, baru acara makan-makan itu bisa dimulai.
“Kasih kata-kata perpisahan donk, Ann....” desak mereka pada Ann di sela-sela acara.
“Aduh malu-maluin aja. Kalian dulu donk.”
“Oke...oke...biar aku dulu.” Ria mengajukan diri, “buat temanku, Ann. Semoga dia tidak lupa sama kita-kita semua. Semoga dia sukses dengan kuliahnya dan cepat-cepat bawa pulang cowo bule!”
“Huuuhhh......” semua menyorakinya.




“Aku! Aku!” giliran Priska, “aku cuma mau bilang, Ann itu teman yang paling baik, paling sabar sedunia, paling imut, paling kalem, paling pinter, paling rajin bikinin PR buat kita semua, pokoknya paling semuanya deh! Aku pasti bakal kehilangan dia selama beberapa tahun mendatang. Semoga dia tidak pernah melupakan kita semua, termasuk aku. Kalau sudah jadi dokter, aku setiap hari boleh check up gratis ya!!”
“Yeeehhh!! Maunya!”
“Aku juga mau,” giliran Josh yang buka suara sembari menatap Ann dalam, “aku baru mengenal Ann tidak lama, tapi rasanya aku sudah mengenal dia selama bertahun-tahun. Ann itu temanku yang paling baik, yang paling sabar mendengar semua ocehanku kalau aku lagi kesal. Dia juga yang selalu mendampingiku setiap kali aku sedih. Pokoknya Ann itu bukan cuma teman yang ada di saat kita senang saja, tapi dia juga selalu ada di saat kita susah. Aku merasa beruntung bisa bertemu dengannya dan menjadi temannya. Aku akan selalu mendoakan yang terbaiknya untuknya.”

Mereka semua serius mendengarnya. Lalu tiba saatnya bagi Emma, “Ini sebenarnya bukan perpisahan untuk selamanya, tapi meskipun begitu aku tetap akan merindukan Ann. Kami sudah berteman sejak kecil, dulu kami pernah membuat perjanjian aneh kalau kami akan sekolah dan kuliah di satu tempat yang sama agar tidak terpisahkan. Ya...meskipun janji itu tidak bisa terwujud,tapi aku tetap merasa sampai kapanpun juga aku dan Ann memang tidak akan terpisahkan. Kami sudah melalui semuanya bersama-sama, mulai dari kejadian yang menyenangkan, pertengkaran-pertengkaran kecil sampai kejadian yang menyedihkan, tapi justru karena semua itulah aku bisa belajar bagaimana cara menghargai persahabatan kami. Dan aku bangga karena sampai detik ini aku masih bisa menjadi temannya.”

Ann tersentuh mendengar semua itu. Setelah itu yang lainnya tak mau ketinggalan bergantian mengucapkan salam perpisahan mereka pada Ann. Ann tersenyum haru mengucapkan terima kasih, “Thanks ya. Kalian memang teman-temanku yang baik. Aku pasti tidak akan melupakan kalian semua...Thank you banget...Kalian juga, meskipun kita semua bakal terpencar-pencar setelah lulus, kita harus sering-sering contact satu sama lain. Jangan sampai persahabatan kita cuma sampai di sini saja.”
“Duhh...jadi mau nangis.” Ria mengusap matanya cepat-cepat.

Mereka tersenyum menatap Ria, sedikit pun tidak mengolok-oloknya karena sebenarnya dalam hati mereka masing-masing pun merasa sedih. Acara makan-makan itu baru selesai sekitar jam 9 malam. Ann memberi pelukan hangat pada semua teman-temannya untuk terakhir kali, besok mereka tidak bisa mengantarnya sampai ke airport. Mereka kemudian bubar satu per satu. Tapi mereka semua berjanji akan sering contact sesibuk apapun nantinya. Bahkan sudah ada yang mengusulkan 2 tahun lagi harus diadakan acara reuni.

Emma memaksa ingin mengantar Ann pulang. Josh akhirnya mau mengalah pulang sendiri.
“Wow....sudah punya SIM nih ye,” celetuk Ann di mobil saat Emma mengendarai mobilnya dengan tegang, “nyetirnya masih culun tuh. SIM nembak ya?”
”Bawel. Ini udah yang paling nyantai nih. Aku kan belum pernah bawa mobil malam-malam.”
“Lagian siapa suruh bawa mobil segala, kan ada Josh.”
“Aku mau bicara, penting. Makanya tadi Josh kusuruh pulang sendiri.”
“Mau bicara apa? Tumben-tumbenan kau serius seperti ini.”
***

“Ann, kau harus dengar aku baik-baik ya.”
“Dengar apa?”
“Tadi sore aku menemui Vincent. Aku terlambat datang karena menemuinya.”
Ann menatapnya tegang, “Buat apa?”
”Ini masalah Dennis, Ann.”
”Emma, tolong jangan bahas soal itu lagi! Jangan sebut-sebut namanya lagi.”
“Tapi kau harus dengar aku.”
“Sejak kapan kau jadi memihak padanya?! Aku sudah bilang, aku tidak mau lagi berurusan dengannya!”
“Iya, tapi kau harus tahu yang sebenarnya! Kau akan menyesal kalau sampai tidak tahu! Dennis itu benar-benar mencintaimu, kau harus tahu itu! Dia berbuat seperti itu karena dia merasa tidak pantas menjadi pacarmu. Lihat dirimu, anak baik-baik, dari keluarga kaya, punya otak cerdas, masa depan cerah, kuliah di Inggris, kalau aku jadi Dennis aku juga bakal merasa tidak pantas mendampingimu!”
“Semua ucapanmu itu konyol sekali.”
“Aku tidak berbohong. Kau tahu? Cek yang diberi Papamu itu dirobek Dennis, dia sama sekali tidak mau memakainya!”

Ann menutup kupingnya, “Aku tidak mau dengar!! Apapun yang mau kau katakan, aku tidak akan terpengaruh!”
Emma membanting setir, “Kalau begitu aku akan membawamu langsung ke orangnya!”
“Apa? Apa yang kaulakukan, Emma?”
“Kau harus mendengar sendiri darinya.”
”Aku tidak mau! Hentikan mobilmu!”

Emma mengunci seluruh pintu mobilnya automatis, ia langsung mengencangkan laju mobilnya tanpa menghiraukan permohonan Ann.
Mobil berkecepatan tinggi itu direm mendadak di depan mobil Vincent yang kosong. Emma turun dari mobil, lalu membuka pintu Ann dan menarik temannya itu untuk keluar. Ia tidak peduli meskipun Ann berulang kali meronta-ronta ingin melepaskan diri. Ann ditariknya sampai ke sebuah rumah kosong yang tidak berpenghuni. Mereka menyelinap masuk ke dalam sana dan menemukan Vincent seorang diri. Hanya Vincent.

“Mana Dennis? Dia harus menjelaskan semuanya pada Ann sekarang!” Emma mendorong Ann pada Vincent.

Vincent menatapnya getir, “Dennis sudah pergi....”
”Apa katamu!? Itu tidak mungkin, bukankah kau sudah bilang malam ini kita harus mempertemukan Dennis dengan Ann!”
“Aku tahu! Tapi....dia sudah pergi.”
”Kalau begitu cepat beritahu aku ke mana dia pergi!”
“Aku tidak tahu, Emma..” Vincent menunduk, “aku tidak tahu....”
Ann mendesah sinis, “Sudah kubilang, untuk apa memperpanjang masalah ini lagi? Aku tidak akan terpengaruh meskipun dia ada disini sekarang. Aku sudah tidak peduli lagi. Untuk apa kalian repot-repot mengarang cerita untuk membelanya? Dia saja tidak mau pusing-pusing!”
“Tapi aku sama sekali tidak mengarang cerita! Semua yang kukatakan itu benar!”
Emma membela Vincent,
“Dia benar, Ann.”
”Kenapa kau begitu yakin dengan semua ucapannya? Kau lebih memihak dia daripada aku?! Apa kau tidak tahu aku sudah cukup menanggung semua sakit hati yang dia buat padaku?! Aku sudah capek, Emma! Berhentilah menyeretku ke masalah ini lagi. Tolong biarkan aku lepas dari semua masa lalu itu. Lupakan semua yang sudah usai!”
”Dennis pergi bukan karena dia tidak mau bertemu denganmu. Dia pernah bilang kan? Suatu hari nanti dia akan membawa ibunya pergi meninggalkan ayahnya. Sekarang dia sudah benar-benar pergi...”

Kalimat itu berhasil membungkam Ann.
“Aku terlambat datang untuk menyakinkan dia. Tapi sebelum itu dia pernah bilang, dia ingin sekali bertemu denganmu di tempat yang hanya kalian berdua tahu sebelum kau pergi ke Inggris. Aku tidak mengerti apa maksud ucapannya...”

Tapi Ann mengerti apa maksudnya. Tempat itu adalah taman tertutup di mana mereka pernah saling berjanji untuk pergi ke sana setiap kali merasa rindu dengan yang lain. Ann menggeleng, untuk kesekian kalinya ia menyakinkan dirinya untuk tidak mempercayai semua itu.
“Kenapa sulit sekali bagimu untuk mempercayai Dennis? Apa yang harus dia lakukan baru kau mau percaya, Ann?”
“Tidak ada. Aku hanya mau dia benar-benar pergi dari kehidupanku. Semua sudah terlambat, Vincent, sudah terlambat untuk memaafkannya.”
“Aku mengenal Dennis luar dalam, aku tahu masa lalunya memang tidak terlalu baik....tapi belum pernah aku melihat dia mencintai seseorang sebesar perasaannya padamu. Aku belum pernah melihat dia mau berkorban sampai seperti ini hanya demi seseorang. Kau harus percaya, Ann. Sebenarnya aku pun sudah pasrah bagaimana kau
mau membenci Dennis, aku hanya mau kau menyisihkan sedikit perasaanmu padanya untuk memberinya kesempatan sekali lagi. Karena aku yakin kau sebenarnya masih peduli.”

Tapi tak ada yang mampu mencegah kepergian Ann.
“Ann, sebelum kau pergi ke Inggris.....cobalah kau datang ke tempat yang dimaksud Dennis itu. Mungkin semuanya belum terlambat...” ujar Emma.

Ann tidak menghiraukan bujukan Emma. Ia pergi begitu saja.

Keesokkan harinya..
Ann duduk diam di mobilnya dalam perjalanannya ke airport. Ia hanya membisu tanpa mendengar semua nasehat dari Papa dan Mamanya seputar Inggris. Ia merasa tidak bergairah lagi pergi ke Inggris. Ada yang menyesakkan, seakan-akan mendesaknya untuk menyelesaikan suatu masalah yang masih menggantung. Ia tidak ak
an merasa tenang sebelum menyelesaikannya hingga akhir.

"Sebelum kau pergi ke Inggris.....cobalah kau datang ke tempat yang dimaksud Dennis itu. Mungkin semuanya belum terlambat..."

Kata-kata Emma terngiang-ngiang lagi dalam benaknya......

Tidak, aku tidak mau!

Ann memejam matanya kuat-kuat, setengah mati menghapus semua keraguan yang ada didalam pikirannya. Hatinya terombang-ambing tak menentu. Tapi semakin ia menghindar, kata-kata dari Vincent dan Emma semakin menghantuinya. Datang menyerangnya bertubi-tubi tanpa ampun.

"kau akan menyesal kalau sampai tidak tahu! Dennis itu benar-benar mencintaimu, kau harus tahu itu! Dia berbuat seperti itu karena dia merasa tidak pantas menjadi pacarmu."
"cek yang diberi Papamu itu dirobek Dennis, dia sama sekali tidak mau memakainya!"

"aku hanya mau kau menyisihkan sedikit perasaanmu padanya untuk memberinya kesempatan sekali lagi. Karena aku yakin kau sebenarnya masih peduli"

"sebelum kau pergi ke Inggris.....cobalah kau datang ke tempat yang dimaksud Dennis itu. Mungkin semuanya belum terlambat..."

"cobalah kau datang ke tempat yang dimaksud Dennis itu. Mungkin semuanya belum terlambat..."

"mungkin semuanya belum terlambat..."

"...belum terlambat..."

Ann meremas tangannya. Nuraninya berperang hebat di dalam sana. Ia terus mencoba untuk tidak terpengaruh sedikitpun, tapi justru hati kecilnya sendiri yang terus mendesaknya untuk percaya. Bagaimana kalau ternyata Vincent dan Emma tidak membohonginya? Bagaimana kalau Dennis ternyata memang tidak seperti yang ia kira? Akankah ia menyesal karena tidak mau mendengar kata hatinya?

“Waduh.....kok di sini malah macet? Seharusnya kita tadi pergi lewat
jalan lain,” keluh Mama saat supir menghentikan laju mobilnya di tengah-tengah kemacetan.
“Setidaknya kita sudah berangkat pagi-pagi, kita tidak akan ketinggalan pesawat. Iya kan, Ann?”

Ann melamun. Masih bergelut dengan kerisauannya.
“Ann?”

Aku akan menyesal nantinya kalau ternyata Emma dan Vincent benar...

”Ann, kamu kenapa?” Mama menatapnya bingung.
“Ann?”

Ann mendongak, menatap wajah kedua orang tuanya dengan tatapan penuh rasa bersalah. Tapi keputusannya sudah bulat. Ia akan mengambil resiko apapun yang nanti akan menimpanya. Lalu tiba-tiba saja, Ann membuka pintu mobil dan langsung meloncat keluar.

Mama memekik, “Ann! Apa yang kamu lakukan!”
“Ann!!” teriak Papa, “kembali ke sini!”

Ann tidak menuruti mereka. Ia tidak sempat berpikir panjang, yang ia mau hanyalah berlari ke tempat di mana ia bisa menemui Dennis sebelum terlambat. Kakinya berlari mengikuti kata hatinya, berlari menerobos kemacetan lalu lintas yang mengepung mobil keluarganya.
Ann tidak peduli Papa dan Mama terus berteriak ketakutan memanggilnya. Tapi ia tidak takut sedikitpun.

Aku harus ke sana!

Ia terus berlari dan berlari. Berharap keputusannya ini sudah tepat.
Berharap ia bisa memiliki akhir yang bahagia.
----

Di taman itu Ann menunggu seorang diri. Tak ada yang sanggup menggambarkan seperti apa suasana hatinya saat ini. Ia menunggu dan terus menunggu, berharap Dennis akan muncul di depan matanya. Meskipun ia merasa sebenarnya ia sedang menunggu ketidakpastian yang takkan kunjung datang.

Ia tahu harapanya sangat tipis. Tapi ia terus menunggu. Ann berdiri di tepi danau itu dan mengenang kembali saat-saat ia dan Dennis mengucapkan permohonan. Lalu saat Dennis pergi menelusuri taman itu untuk mencarikannya mawar. Mungkin Ann tidak pernah menyadari bahwa saat itulah ia pertama kali membuka hatinya untuk Dennis hingga akhirnya jatuh cinta padanya.

Ann meringkuk di sana. Menahan semua kenangan manis itu agar tak menyeruak keluar dan membuat luka di hatinya semakin dalam. Tapi memori itu terus berputar di dalam pikirannya, tertanam dalam jiwanya. Dan Ann tak kuasa menipu dirinya sendiri bahwa ia sebenarnya menginginkan saat-saat indah itu bisa kembali padanya.

Maka ia pun terus menunggu.....Berjam-jam ia meringkuk di tepi
danau itu. Menunggu dan terus menunggu.... Hingga pada akhirnya Ann justru tidak tahu kenapa ia mau datang ke tempat ini. Kenapa ia masih juga memberi kesempatan pada Dennis meskipun ia tahu akhir yang bahagia seperti yang ia inginkan tidak akan pernah terjadi.

Kini ia menyesal... Menyesal telah datang kemari. Sampai kapanpun juga Dennis tidak akan datang. Ia merasa yang ia tunggu-tunggu hanyalah kepalsuan, hanya khayalan yang terlalu tinggi. Ia sudah cukup merasa sakitnya jatuh, dan kini ia harus merasakannya lagi.

Tiba-tiba saja ia lelah terus berharap seperti ini. Ia bosan menangis. Sudah cukup. Semuanya sudah lebih dari cukup.

Dennis tidak akan datang. Sampai kapanpun juga ia tidak akan datang. Di tempat ini aku hanya menunggu khayalanku sendiri. Mungkin begini lebih baik, aku bisa terbangun dari tidurku. Aku bisa
membuang jauh-jauh semua mimpiku karena kini aku sudah tahu pasti, Dennis memang tidak pernah bersungguh-sungguh mencintaiku. Di tempat ini aku akan mengakhiri semuanya. Aku akan melepaskan diriku sendiri dari bayangannya. Dengan cara inilah aku akan bangkit.

Ann bangkit berdiri, memandang seisi taman kosong itu untuk terakhir kalinya. Ia tersenyum tanpa arti, sedikitpun ia tidak menyesal telah datang ke sini. Karena dengan begini ia akhirnya bisa dengan rela mengucapkan selamat tinggal pada semuanya. Selamat tinggal pada tempat itu, juga pada Dennis. Di taman itulah ia berjanji akan melupakan Dennis dengan seluruh hatinya.

Ann tidak pernah tahu........10 menit setelah ia pergi.....ya, hanya 10 menit....Dennis berlari menuju taman itu. Susah payah menerobos masuk untuk pergi ke tepi danau itu. Nafasnya tersengal-sengal, memandang sekeliling untuk mencari Ann. Tapi Ann sudah tidak ada.

Hanya 10 menit setelah Ann pergi.....
Betapa waktu 10 menit itu sanggup mengubur cinta sedalam apapun....
***

5 tahun kemudian.
“Bagaimana? Sudah beres belum?”

Dennis keluar dari pintu dapur sambil menepuk-nepuk tangannya yang kotor ke baju. Ia tersenyum,” Sudah beres kok, Tante. Kulkasnya tidak apa-apa, mungkin sudah agak kuno jadi sudah harus diganti alat-alat dalamnya.“

Ibu rumah tangga itu tersenyum puas melihat hasil kerja Dennis. Ia memberi tips yang cukup besar untuk pemuda itu. Tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih saat Dennis sudah mau pamit pulang.

Dennis, 25 tahun, tidak banyak berubah dalam rentang waktu ini. Hanya saja tubuhnya menjadi lebih tegap, wajahnya kian dewasa dengan garis-garis kematangan di sana. Sepertinya ia sudah banyak menempuh kesusahan dan kesulitan dalam hidup ini hingga ia tumbuh menjadi sosok yang dewasa. Banyak hal yang terjadi selama 5 tahun ini. Dennis pergi dengan ibunya meninggalkan ayahnya ke sebuah kota kecil. Disana ia memulai segalanya dari awal. Segala pekerjaan, mulai dari pelayan di restoran kecil sampai tukang antar barang, sudah pernah dijalaninya. Susah payah ia banting tulang dan baru bisa mengumpulkan uang untuk melunasi semua hutang ayahnya di masa lalu. Dan tiba-tiba saja 2 tahun yang lalu ibunya meninggal dunia karena sakit keras. Begitu tiba-tiba hingga membuat Dennis sangat terpukul, ia sempat pulang mengunjungi ayahnya untuk menyampaikan berita dukacita ini. Tapi reaksi yang diterimanya tidak
terlalu baik, meskipun awalnya ia kelihatan sedih tapi keesokkan harinya malah minta uang pada Dennis. Dennis memberikan semua uang yang ada padanya, setelah itu ia meninggalkannya dan tidak pernah mengunjunginya lagi.

Hidupnya boleh dibilang sangat menggenaskan selama 2 tahun belakangan ini. Begitu terpuruk hingga akhirnya ia bertemu dengan Om Hartono, pemilik sebuah pusat service/reparasi yang menawarinya ikut kerja di sana. Meski pengalamannya sangat minim, tapi kemauan Dennis untuk belajar sangat keras dan pekerjaannya nyaris selalu memuaskan. Dalam sekejap saja ia sudah menjadi bawahan kesayangan Om Hartono. Usaha kecil-kecilan itu perlahan-lahan mulai maju dan setahun kemudian sudah bisa membuka cabang baru di kota tempat tinggal Dennis dulu. Om Hartono beserta keluarganya ikut pindah dan memboyong Dennis ikut serta. Mau tak mau Dennis menurut. Akhirnya ia pulang. Kehidupannya perlahan-lahan mulai membaik. Meskipun ia tidak mungkin membalik keadaan menjadi seperti dulu lagi, tapi ia kini sudah bisa belajar hidup susah dan menghargai setiap uang yang ia peroleh dari hasil kerja kerasnya. Ia sudah menjadi Dennis yang baru.
-----

Dennis menaiki motor bututnya kembali ke tempat kerjanya, sebuah service centre resmi yang baru saja membuka cabang di kota ini. Ia mendatangi kantor Om Hartono, melaporkan hasil pekerjaannya. Seperti biasa, ia selalu mendapat pujian dari pimpinannya itu.

“Kalau kerjamu sebagus ini terus, lama-lama aku tidak butuh tukang servis yang lain lagi di sini,” Om Hartono yang berperawakan gemuk-pendek menghampiri Dennis dan menepuk-nepuk pundaknya, “apa kau mau mengambil gajimu sekarang?”

Dennis membelalak kaget, “Wah...benar nih, Om?”
”Aku tahu kau sedang mengumpulkan uang untuk membeli motor baru. Motormu itu sudah butut sekali, memang sudah seharus
nya diganti. Aku tidak mau karyawan terbaikku terlambat datang ke rumah pelanggan gara-gara motornya mogok.” Ia tertawa sampai perut buncitnya kembang-kempis. Lalu ia menyerahkan amplop coklat berisi uang gaji pada Dennis.
Dennis menerimanya dengan senang hati.
“Aku belum pernah melihat anak muda sepertimu. Banting tulang siang-malam seperti tidak punya kehidupan lain saja...” Om Hartono tersenyum, “mungkin sudah saatnya kau cari pacar yang baik, yang bisa merawatmu.”
”Tidak usah ...aku bisa merawat diri sendiri kok.” jawab Dennis tanpa beban.
“Apanya yang bisa? Kalau kau sakit, siapa coba yang mau mengurusimu? Makanya...cari pacar.”
”Iya deh...iya....” Dennis tertawa menimpalinya ,”kalau perlu sekarang juga habis pulang aku langsung cari. Besok aku bawa ke sini.”

Mereka tertawa bersama-sama.

Dennis menyimpan amplop tebal itu ke dalam saku jaketnya baik-baik, takut jatuh. Lalu mengendarai motor bututnya sambil bersiul-siul kecil. Sudah malam, ia harus cari makan.

Makan apa ya? Aku bosan makan nasi rames melulu. Mumpung baru gajian....makan yang lebih enak dikit ah!

Dennis tersenyum-senyum sendiri saat menghentikan motornya di depan lampu merah. Otaknya sibuk memikirkan menu makanan yang bakal disantapnya malam ini. Rasanya sudah lama sekali ia tidak makan enak.

Lalu tiba-tiba saja sebuah mobil sedan mungil melaju kencang di belakangnya. Tampaknya si pengemudi di dalam mobil itu terburu-buru sekali hingga tidak menyadari lampu lalu lintas yang sedang merah menyala. Tiba-tiba mobil itu direm. Mobil itu tidak sempat berhenti mulus hingga akhirnya menyerempet motor butut Dennis.

Tabrakannya tidak keras, tapi motor Dennis sampai terdorong ke depan. Pengemudi mobil itu keluar dengan panik. Seorang wanita rupanya. Elegan dengan pakaian bermereknya yang mahal. Sepintas ia kelihatan sangat cantik. Tapi bukan itu yang jadi pusat perhatian Dennis. Ia turun dari motornya dan melihat lampu belakangnya pecah.

“Aduh....sori...sori....aku tadi nyetir sambil pegang handphone. Aku tidak tahu lagi lampu merah, jalanannya kan sempit, jadi aku ngebut saja. Aku tidak sempat rem makanya nabrak. Sori ya...sori...aku pasti akan mengganti kerugian ini.”

Dennis mengamati kondisi motornya. Tidak perlu....lagian motor butut ini memang sudah saatnya pensiun...

“Aduh..... tolong ya jangan bawa-bawa ke polisi segala. Ini pertama kalinya aku bawa mobil sampai nabrak. Aku benar-benar tidak sengaja. Berapa ganti rugi yang Anda mau? Saya punya kartu nama, kalau Anda mau Anda tinggal...” suaranya tiba-tiba berhenti.

Dennis mendongak menatapnya, bingung kenapa orang itu berhenti ngoceh-ngoceh.

“Sepertinya aku mengenalmu.....”

Dennis menggeleng, “Sudahlah, tidak perlu sampai begitu kok. Aku tidak menuntut ganti rugi apa-apa, cuma lampu belakang saja yang pecah....lagipula besok motor ini juga sudah bakal mau disimpan di museum.”

”Bukan...bukan....aku memang sepertinya mengenalmu! Benar, aku tidak bohong!”

Dennis diam dan tersenyum, membiarkan gadis cantik itu terus mengamatinya dengan kening berkerut. Sedikitpun Dennis tidak merasa pernah mengenalnya.

“Kau.....Astaga!!” si cantik nan elegan itu membekap mulutnya, melotot, “kau Dennis kan?”

Dennis termangu, “Kita pernah bertemu?”

”Ya ampun! Ternyata kau memang benar-benar Dennis! Astaga, aku sama sekali tidak menyangka!! Ini aku, Dennis! Masak sudah lupa?!”
“Hm....”
“Ini aku, Emma!! Emma.....”
Emma tertawa renyah melihat Dennis terkejut saat menyadarinya.
***

Dennis memasuki restoran itu bersama Emma. Emma bersikeras memaksanya makan malam bersama di tempat itu. Reuni katanya.

“Wah....sudah lama sekali ya! Aku tidak menyangka bakal bertemu denganmu di sana!”

Emma duduk di hadapan Dennis dan tidak henti-hentinya mengamati Dennis dari rambut sampai jempol kaki. Ia tersenyum dan mengagumi Dennis dalam hati. Meskipun ia hanya memakai kaos oblong dan jeans belel dengan sepatu bekas, tapi Dennis tetap kelihatan istimewa di mata Emma.

Dulu udah cakep, sekarang tambah cakep!

“Iya, sudah berapa tahun ya kita tidak bertemu?”
”Hm...berapa ya?” Emma menghitung-hitung dengan jarinya, “empat ya? Eh bukan, lima tahun kayaknya!”
“Lumayan lama juga ya..”
“Lumayan? Gila, lima tahun itu lama sekali, Dennis. Tapi kau tidak banyak berubah ya!” makin ganteng aja...dari cowo cengengesan berubah jadi pria dewasa yang macho....Emma cekikikan sendiri mendengar bisikan hatinya.

“Justru kau yang tidak berubah.” Gentian Dennis yang meninjau Emma, “kok aku bisa sampai lupa ya?”

Emma masih sangat cantik. Ia tampil sangat menawan dengan rambut keritingnya yang dicat coklat kemerah-merahan dan setelan pakaian hitamnya yang sangat ketat, minim dan sexy. Dandanannya nyaris membuat semua mata pria di restoran itu melotot padanya.

Seorang pelayan mendatangi meja mereka. Terus terang Dennis tidak terlalu berminat dengan menu makanan restoran yang mahal-mahal itu, tapi Emma ngotot ingin mentraktirnya malam ini. Dengan syarat Dennis harus menceritakan apa saja yang menarik yang sudah terjadi padanya selama 5 tahun ini.

“Ayo ceritakan semuanya! Kapan kau balik ke kota ini?”
”Aku sudah pulang setahun. Ibuku meninggal dunia beberapa tahun yang lalu karena sakit, waktu itu aku sempat pulang untuk menjenguk ayahku sebentar. Lalu aku dapat pekerjaan yang cocok dan akhirnya baru benar-benar kembali ke kota ini untuk mengikuti bosku.”
“Aku turut sedih mendengar tentang ibumu.”
”Tidak apa-apa. Kehidupanku sudah semakin baik belakangan ini.”
”Sepertinya memang begitu. Kau jadi kelihatan gimana...gitu.. Oh ya, apa pekerjaanmu?”
”Aku kerja di pusat service, aku ini tukang servis.....tukang reparasi lah intinya.”
”Reparasi TV, AC, kulkas?”
”Apa saja. Aku bisa membetuli apa saja yang punya mesin!” Dennis tertawa.
“Wah...kedengarannya asik juga ya.”
”Kau sendiri bagaimana? Sampai punya kartu nama segala...”
”Oh itu...” Emma jadi malu, “begitu lulus kuliah aku langsung kerja di perusahaan pamanku. Lumayan lah...setidaknya aku jadi lebih mandiri sekarang.”
“Sepertinya memang begitu.”

Makanan pesanan mereka datang juga akhirnya. Sambil makan mereka terus bertukar cerita tentang pengalaman masing-masing.
Dennis bercerita tentang Vincent yang sekarang sudah buka usaha sendiri. Lalu Emma menceritakan tentang teman-teman sekolahnya yang dulu, sudah ada yang jadi bos, sudah ada yang punya 3 anak, tapi ada juga yang hidupnya melarat. Rasanya aneh juga memikirkan semua perubahan itu. Emma jadi sadar tenyata waktu 5 tahun itu memang sangat lama. Terlalu lama hingga ia akhirnya ingat satu hal saat bertanya pada Dennis, “Apa kau sudah punya pacar? Jangan-jangan malah sudah berkeluarga!”
”Tidak,” Dennis tertawa kencang, “aku hidup sendiri kok. Mana ada sih...yang mau sama tukang servis seperti aku. Hidupnya pas-pasan. Motorku yang kautabrak itu saja kubeli dengan cicilan!”
”Apa kau pernah bertemu dengan Svannie? Maksudku Ann.” tanya Emma ringan.

Sedikitpun ia tidak merasa rishi menanyakan hal itu pada Dennis. Dennis hanya menggeleng kecil.

“Aku dengar dia sudah pulang dari Inggris, baru seminggu yang lalu kalau tidak salah. Kuliahnya masih lama, dia pulang hanya untuk berlibur. Dia kan tidak pernah pulang selama 5 tahun ini.”
“Oh ya?” Dennis tersenyum kecil, kemudian meneguk minuman ringannya.

Begitu selesai makan dan keluar dari restoran itu, Emma langsung menanyai alamat Dennis, “Boleh aku minta alamatmu? Siapa tahu nanti kita bisa kumpul-kumpul lagi.”

Dennis memberi alamatnya pada Emma, lalu balas menanyai alamat gadis itu. Emma memberi kartu namanya.

“Nah Dennis, aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi. Lucu juga ya, rasanya kita sudah berubah jadi orang yang culun-culun..” Emma tertawa, “tapi bagaimana pun juga aku bersyukur kita bisa bertemu lagi. Moga-moga saja kita bisa berkumpul lagi dengan yang lainnya.”
“Iya, moga-moga saja.”
-----

Kaki itu terasa berat saat Dennis melangkah masuk ke dalam rumah kecilnya yang sederhana. Terlalu sederhana untuk ukuran pria dewasa sepertinya. Segala perkakas reparasi berserakan di sekitar kamar. Kamar tidur dan dapur jadi satu, tidak ada istilah ruang tamu. Meskipun sempit tapi setidaknya ia tinggal sendiri di sana, jadi rasanya tidak terlalu menyesakkan. Ia melempar tas kerjanya ke atas lantai kamar yang kotor. Lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang tergeletak begitu saja di lantai. Dipejamnya kedua mata itu
untuk kembali mengenang semua kejadian 5 tahun yang lalu. Rasanya tidak terlalu sulit untuk mengingat semuanya. Mengingat detik-detik terakhir dimana ia menyesal dan langsung berlari ke taman itu untuk mencari Ann. Entah kenapa ia merasa Ann akan pergi ke tempat itu sebelum ia berangkat ke Inggris, tapi ternyata ditunggu sampai malam pun Ann tidak datang. Gadis itu sudah meninggalkannya keInggris.

Lalu sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu lagi. Perlahan-lahan Dennis mencoba bangkit dari rasa bersalah dan penyesalan yang terus
menghantuinya. Ia terus memaksa diri untuk bekerja tanpa kenal lelah. Persis seperti kata Om Hartono, banting tulang siang-malam. Tapi setelah malam ini ia bertemu dengan Emma dan mendengar ceritanya tentang kembalinya Ann dari Inggris....Dennis sadar, sampai detik ini pun ternyata ia masih belum bisa menghapus Ann dari kehidupannya.
***

Keesokkan harinya di tempat kerja..

Dennis melamun, tidak terlalu berselera menyantap bekal makan siangnya. Ia sendiri tidak jelas apa yang ada di kepalanya saat ini.

“Hey Dennis, makan siangmu tidak disentuh?” Heru mengintip dengan penuh harapan,“buat aku aja ya!”

Ia langsung menyambar bekal makan siang Dennis, sedikitpun Dennis tidak mencegahnya. Tiba-tiba Dennis beranjak dari tempatnya.

“Loh? Mau ke mana?”
“Jalan-jalan sebentar.”
“Jalan-jalan ke mana? Udah mau kerja nih!”

Dennis acuh tak acuh.
Jalan-jalan yang dimaksud Dennis ternyata berakhir di satu tempat yang tidak terlalu asing baginya. Dulu tempat itu adalah taman. Dan kini sudah menjelma menjadi...taman pula. Dennis tidak tahu kapan tepatnya taman yang sudah ditutup itu kembali dibuka.

Ada yang bilang taman ini kembali dibuka karena dibiayai seorang jutawan pecinta lingkungan. Dennis tidak terlalu peduli. Tapi yang pasti taman ini sudah dirombak menjadi jauh lebih indah. Seolah-olah taman itu terbuka kembali karena menanti kedatangan seseorang.

Tidak banyak yang berubah. Pohon-pohon tua yang menjulang tinggi masih berdiri kokoh di sana, sekan-akan tidak akan roboh karena merupakan saksi bisu dari banyak kejadian di tempat itu. Rerumputan begitu rapi dengan berbagai macam bunga yang bermekaran di sekitar taman. Tapi tidak seperti dulu, kini taman itu sudah ramai dikunjungi orang. Dennis sendiri jarang mendatangi taman ini. Ia merasa tidak ada alasan baginya untuk datang ke sana. Bukankah yang tersimpan di tempat itu hanya kenangan pahit?

Sepasang remaja duduk di bangku taman,mengukir nama mereka
di sana sambil tertawa-tawa senang. Dennis mengamatinya, tanpa sadar ikut tersenyum. Lalu ditatapnya bunga-bunga mawar yang bermekaran di sudut taman.

Sudah banyak mawar di sini....dulu aku sampai mati-matian mencarinya dan cuma dapat satu tangkai yang sudah hampir layu....

Tapi ia ingat betul saat itulah Ann pertama kali tersenyum untuknya.
Kakinya terus melangkah hingga sampai ditepi danau itu. Masih sama seperti dulu. Rentang waktu 5 tahun tidak mampu mengikis keindahannya.

Danau ini..........

Danau penuh kenangan. Ia pernah mengikuti tradisi konyol melempar kerikil dan meminta permohonan agar Ann tahu semua isi hatinya. Dennis tersenyum. Seandainya sekarang ia diminta untuk membuat permohonan lagi....Dennis tidak tahu apa yang akan ia minta. Segala-galanya sudah tidak berarti.

GUK!! Seekor anjing golden retriever menggonggongi Dennis dan mengibas-ngibas ekornya saat ia memutar-mutar di sekitar kaki Dennis. Anjing yang bagus. Tapi kenapa ia mendekati Dennis?

“Speedy!”

Dennis mendengar ada suara memanggil-mangil si golden retriever jantan ini. Dennis mendongak menatap siapa gerangan si pemiliknya. Kemudian ia tercekat, bergegas bangkit berdiri dengan nafas tertahan. Gadis itu berlari-lari kecil mendapati anjingnya tengah melingkar-lingkar di sekitar kaki Dennis, “Speed, hentikan! Jangan bandel ya! Hey, Speed!”

Dennis seperti mati rasa, sekelilingnya terasa berputar-putar saat mendengar suara itu dan melihat sosok itu dari dekat. Dekat sekali hingga Dennis merasa seolah-olah ia tengah bermimpi. Atau mungkin ini memang hanya mimpi?

Tapi gadis itu berada sangat dekat dengannya, ini bukan mimpi!! Hampir-hampir Dennis merasa jantungnya berhenti berdetak.

“Ann..”

Gadis itu berhenti mengejar anjingnya. Ia menoleh pada Dennis. Sunyi........kesunyian yang mematikan.

“.....Dennis..”

Akhirnya, dalam waktu lima tahun perpisahan mereka, inilah pertama kalinya kedua mata mereka saling bertatapan.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Dennis kaku. Diamatinya Ann dengan sungguh-sungguh. Rasanya ia masih belum percaya Ann ada di depan matanya. Ann! Dia benar-benar Ann...
Ann tampak jauh lebih dewasa dibandingkan dulu. Rambutnya jadi panjang, dan wajahnya tetap cantik meski ia jadi lebih kurus dibandingkan saat terakhir Dennis melihatnya. Tapi di balik penampilan yang sederhana itu, ada karisma di dalamnya yang membuat Dennis tak berkutik. Sesuatu dalam diri Ann yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam diri Dennis.

Apa dia sudah melupakanku? Apa dia sudah memaafkanku? Apa dia akan membenciku lagi seperti dulu? Apa dia merasa terbenani dengan pertemuan ini?

“Aku baik-baik saja.” ia tersenyum, menarik kalung leher Speedy, anjingnya.

Hati Dennis bergetar hebat saat Ann menatapnya lagi, “Kau sendiri bagaimana?”

”Aku? Aku juga baik-baik saja.”

Kemudian suasana menjadi kaku.

“Aneh ya, kita bisa bertemu lagi di sini.”
“Aku juga kaget. Setahuku taman ini ditutup kan? Kebetulan tadi saat aku membawa Speed jalan-jalan, aku melewati tempat ini. Sampai kaget, ternyata taman ini sudah dibuka lagi.”
“Ada yang membukanya lagi, taman ini dirombak jadi lebih bagus. Dengar-dengar sih orang yang membuka taman ini seorang pecinta lingkungan. Mungkin dia sama-sama merasa sayang kalau taman ini ditutup. Ada juga ya, yang suka dengan tempat ini selain kita.”

Dennis tersenyum kaku.

’Kita’? Kenapa aku bisa mengucapkan kalimat konyol itu?
“Bagaimana kabar Vincent?”
”Dia baik-baik saja, dia sudah buka usaha sendiri dan
akhir-akhir sering keluar kota.”
“Kedengarannya sangat menarik.”
“Kemarin aku bertemu Emma.”

Aduh...5 tahun aku tidak bertemu dengannya, tapi dari tadi malah terus membicarakan orang lain!!?
“Iya, begitu pulang dari Inggris aku langsung mencari Emma. Dia makin cantik saja ya?”
“Hm..bagaimana kuliahmu di sana?”
”Lulusnya masih lama. Tapi aku betah tinggal di sana. Sudah lima tahun aku tidak pulang ke sini. Apa kau tahu, keluargaku semuanya juga sudah pindah ke sana? Kakakku sudah menikah juga menetap di sana.”
“Oh ya? Baguslah kalau begitu.”

Ann mengangguk kecil.
“Jadi sekarang rumahmu tidak ada yang menempati?”
“Tidak ada, tapi ada yang merawatnya setiap hari.”

Speedy mengibas-ngibas ekornya manja pada Dennis. Mau tak mau Ann tertawa, “Speed memang anjing yang sangat aktif. Dia suka mendatangi siapapun yang tidak dikenalinya.”

Untung dia mendatangiku....

Dennis jongkok ke bawah dan mengelus-elus anjing itu dengan lembut. Ia dapat merasakan Ann sedang menatapnya. Lalu ia memberanikan diri menengadah, “Bagaimana kalau kita duduk-duduk sebentar sambil minum kopi? Rasanya banyak sekali cerita yang masih ingin kudengar darimu.”
“Baiklah.” jawab Ann enteng.
***

Di kedai kopi yang mungil itu Ann menceritakan semua pengalaman-pengalaman menariknya selama di Inggris. Tentang kebudayaannya, tempat-tempatnya yang indah dan eksotik, tentang mata kuliah kedokterannya yang berat namun menantang, tentang pola hidupnya yang amburadul pada awalnya karena tidak bisa beradaptasi, dan masih banyak lagi. Suasana di antara mereka agak mencair setelah itu. Mereka sudah bisa tertawa lepas layaknya dua orang yang saling melepas rindu setelah bertahun-tahun tidak berjumpa. Tapi sedikit pun tidak ada yang menyinggung tentang masa lalu di antara mereka berdua. Tampaknya baik Dennis maupun Ann lebih memilih tidak mengorek kembali masa lalu itu.

“Dari tadi aku yang cerita, sekarang giliranmu.” Ann meneguk minumannya.
“Aku sudah dapat kerjaan yang cocok. Meskipun cuma tukang servis peralatan elektronik, tapi kehidupanku jauh lebih baik.”
”Baguslah kalau begitu.”
“Rasanya tidak ada yang bisa kuceritakan. Kehidupanku semuanya biasa-biasa saja.”
“Aku hampir lupa. Besok kau bisa datang ke pesta ulang tahunku?”
Dennis agak terkejut.
“Bukan aku yang rencanain, aku sama sekali tidak pernah berniat merayakan ultah,” Ann tertawa, “teman-temanku yang merencanakan semuanya. Katanya selagi aku sudah pulang, jadi sekalian saja.”
“Oh...begitu..”
”Kau bisa datang kan?” Ann mengambil sesuatu dari tas kecilnya, secarik kertas dan pen. Ia menulis alamat tempat dilangsungkannya pesta ultah itu, kemudian menyerahkannya pada Dennis, “ini alamatnya. Aku harap kau bisa datang.”
”Besok ya? Kebetulan aku memang tidak lagi banyak kerjaan.” Dennis tersenyum lebar padanya, “pestanya pasti ramai ya?”
“Ya begitulah...”

Dennis tahu apa inti dari pertanyaan selanjutnya, “Kau pasti mengundang pacarmu ya.”

Ann terdiam sesaat. Kemudian ia tersenyum sangat manis pada Dennis sembari mengangkat tangan sebelah kirinya, sebuah cincin perak berlian melingkar di jari manisnya, “Aku sudah tunangan.”

"aku sudah tunangan"

Bagaimana mungkin aku tidak melihat cincin di jarinya itu? Ann sudah bertunangan....

“Sudah dua bulan. Dia teman kuliahku di London, sama-sama ambil kedokteran. Tapi dia juga orang sini kok. Keluarganya sudah kenal baik dengan keluargaku, jadi semuanya berjalan sangat lancar.”

Tentu saja....bagaimana mungkin aku berpikir dia akan tetap menungguku, setelah semua perbuatanku padanya di masa lalu? Dia ternyata sudah benar-benar melupakanku. Dia sudah bahagia.

Ann menatap Dennis penuh selidik, “Kau pasti juga sudah punya pasangan kan? Bawa saja dia ke pestaku besok.”

“Uhm...iya, baiklah.”
“Kalau begitu sampai jumpa lagi besok. Senang bisa bertemu denganmu lagi, Dennis.”

Ann bangkit dari kursinya sambil menarik kalung anjingnya, “ayo, Speed.”  Lalu mereka pergi meninggalkan Dennis merenung sendirian.

Aku hanya masa lalu baginya....tidak lebih. Seharusnya aku rela melihatnya bahagia seperti sekarang ini, tapi aku tidak bisa. Terkutuklah aku akibat dari semua perbuatanku
padanya....
***

Jam tujuh malam hujan turun deras. Dennis berlari-lari kecil memasuki hotel berbintang
5 itu sambil menutupi kepalanya dari rintik hujan. Beberapa pandangan mata yang tertuju padanya menatapnya sinis. Mungkin dikira mereka Dennis salah masuk hotel. Untuk sesaat Dennis memang jadi ragu, tapi setelah dipikir-pikir ia tetap yakin harus datang ke pesta ulang tahun Ann. Maka ia menyeret kakinya masuk ke dalam sana. Ia terperangah melihat pesta ulang tahun yang digelar di depan matanya itu. Begitu meriah, begitu mewah. Semua yang
hadir di sana mengenakan pakaian formal mereka. Yang wanita memakai gaun, yang pria
memakai jas. Dennis merasa ciut, ia hanya memakai kemeja dan celana biasa. Itupun sudah agak basah karena tadi kehujanan. Ia sama sekali tidak menyangka pesta ulang tahun Ann ini bakal dilangsungkan sangat formal layaknya sebuah perjamuan makan malam. Tadinya ia menyangka hanya pesta kecil-kecilan dan hanya dihadiri beberapa teman dekat saja. Tapi sejauh mata memandang, banyak orang-orang penting yang hadir di sana. Orang-orang yang Dennis yakin sama sekali tidak dikenal Ann. Mungkin rekan bisnis Papanya, mungkin kerabat jauh.....Ah bodo amat!!

Sial....kenapa aku bisa muncul di sini dengan dandanan lusuh begini?!! Aku seperti
orang tolol saja!!

Dennis mencoba tetap cuek, tidak memperdulikan tatapan mata orang-orang di sekitarnya.
Ia mencoba mengalihkan pandangannya menyapu seisi ruangan itu untuk mencari Ann.
Yang ia temukan justru Emma. Emma melambai pada Dennis dari kejauhan. Seperti biasa, penampilan Emma sangat luar biasa malam ini. Menjerat mata setiap pria yang melihatnya. Ia tidak pernah kehilangan pesonanya. Dennis membalas lambaiannya. Kikuk. Lalu ia kembali mengedarkan pandangannya mencari Ann. Yang dicari ternyata ada di ujung ruangan, memegang segelas anggur dan tengah bercakap-cakap dengan seorang pria paruh baya yang wajahnya kerap muncul di sampul majalah bisnis. Pria tua itu mengucapkan selamat ulang tahun pada Ann. Ann berterima kasih dan sedikit bercakap-cakap dengannya, lalu ia menoleh ke arah lain dan tidak sengaja pandangan matanya bertemu dengan Dennis. Ann tersenyum kecil pada Dennis. Lalu ia dengan sopan berpamitan pada pengusaha gaek itu, ia menghampiri tempat Dennis. Langkahnya begitu anggun dengan rambut yang tergerai indah dan postur tubuh yang proposional dengan balutan gaun hitam yang dirancang khusus untuknya.

Beberapa orang tersenyum padanya dan membukakan jalan untuknya. Ann tersenyum pada mereka satu persatu. Sangat anggun, sangat karismatik. Hingga ia sampai di depan Dennis, beberapa pasang mata terheran-heran. Dennis tak sanggup menahan debaran jantungnya, penampilan Ann membuatnya merasa kagum campur tegang.
“Kau datang juga akhirnya,” sapa Ann.
“Iya.”
“Apa di luar sedang hujan?” Ann mengamati kemeja biru Dennis yang agak basah.
“Iya, deras sekali. Untung saja aku tidak basah semuanya. Pestamu kelihatannya sangat meriah.”

Ann mengendik bahu, “Aku cuma terima jadi. Temanku yang mengurus semuanya, ada beberapa undangan yang bahkan tidak kukenal. Ya apa boleh buat.” Ia tertawa, “ini resiko kalau semuanya diatur orang lain. Oh ya, kau datang sendiri?”
“Iya, aku sendiri.”

Untung Ann tidak menanyai kenapa Dennis tidak punya pasangan. Ann hanya mengangkat gelas anggur merahnya, “Kau mau kuambilkan minum?”
”Oh tidak, terima kasih. Nanti aku bisa ambil sendiri.”

Seorang undangan permisi lewat, Ann memberinya jalan. Harum parfum lembut Ann membius Dennis saat gadis itu mendekat padanya. Untuk pertama kalinya mereka nyaris bersentuhan. Tapi Dennis segera mundur.
“Ann,” seorang pria muda tampan dengan setelan jas mahalnya tiba-tiba datang dari belakang. Tampan dan rapi, wajahnya masih muda, mungkin hanya tua setahun di atas Ann. Ia menghampiri Ann dengan wajah cemas, “kau di sini rupanya. Ayo, sudah saatnya kau potong kue. Semuanya sudah hampir mati kelaparan, termasuk aku.”

Pemuda itu mengambil gelas minuman Ann dan menyerahkannya pada Dennis, “Tolong pegang ini.”

Dikiranya Dennis itu pelayan!! Dennis tercengang memegang gelas itu, sepenuhnya merasa dipermalukan. Separah itukah penampilannya hingga sampai-sampai ada yang menduganya pelayan?

Kontan saja Ann menatap Dennis dengan penuh rasa bersalah, cepat-cepat ia merebut kembali gelas minumannya dari tangan Dennis. Ia menoleh pada pemuda tadi, “Calvin, dia ini tamuku.”

Pria bernama Calvin itu termangu, lalu berbalik menatap Dennis, “Waduh, aku minta maaf!! Aku benar-benar minta maaf. Tadi aku kira...”
”Tidak apa-apa.” potong Dennis sambil tersenyum.

Sial....malu-maluin aku saja..
“Aku Calvin.”
”Dennis.”

Mereka saling berjabat tangan. Kemudian Ann menatap Calvin dan tersenyum kecil pada Dennis, “Calvin ini tunanganku.”

Dennis terpaku di tempatnya.

Jadi ini dia tunangan Ann...

Tiba-tiba saja Dennis merasa kecil dan tidak ada apa-apanya di depan Calvin. Pria muda itu begitu rapi dan berwibawa. Tipe pria yang pantas berdiri di samping Ann. Tipe menantu idaman semua orang tua. Muda, tampan, dan tentu saja kaya. Benar-benar fantastik, nyaris sempurna meskipun dipandang dari berbagai sudut. Dennis merasa seolah-olah pria ini terlalu bersinar di depan matanya hingga menyilaukan dan membuatnya nyaris seperti sebongkah batu tak berharga. Sungguh kontras perbedaan diantara mereka.

Bagaimana mungkin aku bisa bersaing dengan pria seperti itu? Dia calon dokter, aku cuma si tukang servis bau oli. Kasian benar....

Calvin pun tidak mau kalah mengamati Dennis dari balik kacamata tipisnya, “Teman sekolahmu? Kenapa aku belum pernah melihatnya?”
”Bukan teman sekolah. Dia..” Ann kehilangan kata-kata, “dia teman lama.”

Dennis baru mengerti, ternyata Ann tidak pernah menceritakan apa-apa tentang dia pada tunangannya.Calvin mengangguk, kemudian sambil merangkul pinggang Ann ia mencoba berbasa-basi pada Dennis, “Teman lama? Kalau begitu aku senang sekali bisa bertemu dengan teman lama Ann. Aku mewakili Ann mengucapkan terima kasih karena kau sudah mau dating di pesta ini. Kau suka pestanya?”
“Ya, tentu saja. Pesta yang sangat menarik.”

Terlalu menarik hingga aku dikira pelayan olehmu...

“Kau kerja di mana?” tanya Calvin lagi.

Nah, ini dia....pertanyaan yang paling tepat untuk menyerangku!

Tapi Dennis tetap kelihatan cool, “Aku kerja jadi di pusat reparasi peralatan elektronik.”

”Tukang servis maksudnya?” serang Calvin tanpa sadar, “bukankah itu pekerjaan yang tidak menjanjikan? Pasti berat juga ya kerja seperti itu? Salah sedikit saja pelanggan bisa complaint. Sudah capek-capek kerja tapi gaji juga tidak terlalu memuaskan. Apa kau tidak berminat cari kerja di tempat lain? Kau kelihatannya sangat berbakat, mungkin masih banyak pekerjaan lain yang lebih cocok untukmu.”
”Tapi aku menyukai pekerjaanku.” jawab Dennis tegas.
“Apa yang biasanya kauperbaiki?”
”Apa saja, dari yang ringan sampai yang berat-berat.”

Calvin menengok Ann, “Kalau begitu....sepertinya dia bisa memperbaiki Selina.”

Dennis mengernyit. Apa itu?

Tapi Ann kelihatannya tidak setuju dengan ide Calvin. Baru saja ia mau mencegahnya, tapi Calvin sudah keburu menjelaskannya pada Dennis, “Kau bisa memperbaiki sebuah jam tua? Aku baru saja memboyongnya dari London. Jam itu sudah tua sekali, bahkan hampir dimasukkan ke museum barang-barang seni, tapi bentuknya masih sangat indah dan klasik. Aku tahu Ann menyukainya, jadi aku membelinya untuk Ann. Jam itu sudah kuno dan tidak bisa berfungsi lagi, tapi kata pemiliknya masih bisa diperbaiki. Mungkin dengan sedikit sentuhan orang sepertimu...Kau tahu kan, aku calon dokter, aku tidak mengerti apa-apa tentang mekanik.”
”Tidak masalah, aku akan mencobanya.”
”Sungguh?! Bagus lah kalau begitu. Datanglah ke rumah Ann besok, terserah mau jam berapa saja.”

Ann kelihatan tidak senang namun tak mampu mencegah ide Calvin.

“Ann, rasanya semua undanganmu sudah tidak sabar lagi ingin melihatmu potong kue.”
“Oh iya, aku hampir lupa.”
“Dennis, kalau kau tidak keberatan aku mau membawa Ann ke sana sebentar.”
”Tentu. Aku tidak keberatan.”

Calvin mengandeng tangan Ann meninggalkan Dennis. Sedikitpun Ann tidak menoleh padanya. Ia maju ke depan bersama Calvin dan dalam sekejap saja semua undangan bertepuk tangan riuh menyambutnya. Ann mengedarkan senyumnya ke seluruh tamu undangan, diikuti Calvin. Sungguh pasangan yang serasi. Siapa pun akan berpendapat yang sama. Setelah memotong kue ulang tahunnya, seorang teman Ann berseru agar Calvin memberikan hadiah ulang tahunnya di depan sana agar mereka bisa menyaksikannya bersama-sama. Kemudian Calvin mengeluarkan kado ultahnya untuk Ann.

Sebuah kalung berlian yang berkilau indah. Seluruh undangan ikut terpukau melihat kalung pemberian Calvin itu. Beberapa undangan wanita jadi merasa iri karena Ann begitu beruntung bisa memperoleh kalung seindah itu. Sedangkan yang pria merasa salut pada Calvin yang sanggup memberi hadiah semahal itu untuk pacarnya.

Calvin memakaikan kalung itu di leher Ann dengan lembut, kemudian mengecup keningnya. Seluruh undangan kembali bertepuk tangan. Entah mengapa Dennis merasa hatinya terbakar. Ia tidak bisa menikmati pemandangan semacam itu dan berakting seakan-akan ia baik-baik saja.

Calvin belum selesai rupanya, “Aku mau mengumumkan sesuatu pada kalian semua, para undangan yang terhormat. Mungkin ada beberapa orang yang sudah tahu, tapi aku rasa aku ingin membuatnya menjadi lebih resmi. Aku ingin semua tahu betapa beruntungnya
aku ini, karena bisa mendampingi sosok sesempurna Ann. Aku pertama kali bertemu dengannya dua tahun yang lalu. Waktu itu aku berkata pada diriku sendiri, ‘Calvin, wanita inilah yang tepat untukmu’. Dan aku ternyata memang benar. Tidak ada satu haripun yang kulewati tanpa memikirkan bahwa akulah pria yang seharusnya
mendampingi Ann. Melewati hari-hariku bersamanya membuatku merasa semakin membutuhkannya. Mungkin kedengarannya terlalu melankolis, tapi percayalah suatu saat nanti kalian pun akan merasakannya yang sama kalau kalian sudah menemukan sosok
yang tepat itu.”

Semuanya tersenyum. Dennis tidak tersenyum sedikitpun. Hatinya menahan perih. Haruskah ia menyaksikan semua itu? Menyaksikan ada pria lain yang mengisi kehidupan Ann selain dia? Sanggupkah ia menerima kenyataan bahwa dirinya memang sudah lenyap dari hidup
Ann?

“Intinya,” lanjut Calvin, “setelah sekian lama kami pacaran, akhirnya dua bulan yang lalu aku memberanikan diri untuk melamarnya. Dan aku sungguh beruntung....karena dia menerima lamaranku. Kini kami resmi bertunangan.”

Calvin menatap Ann lama, Ann tersenyum kemudian mereka berpelukan singkat. Beberapa hadirin berseru kaget mendengar pengumuman pertunangan itu, tapi tak lama kemudian gemuruh tepuk tangan kembali mewarnai setiap sudut ruangan mewah itu. Satu persatu undangan menghampiri kedua pasangan itu dan menyalami mereka.

Calvin dan Ann tersenyum dan tak henti-hentinya menerima ucapan selamat. Dennis mendesah panjang, kemudian langsung beranjak pergi dari tempatnya berdiri. Tidak ada gunanya ia terus berlama-lama disini, rasanya ia tidak perlu menyaksikan semuanya lebih jauh lagi. Itu sudah lebih dari cukup untuk malam ini. Datang ke pesta ulang tahun ini rasanya benar-benar kesalahan besar bagi Dennis.

Ann menerima ucapan selamat dari kerabat dekat Calvin sambil terus mengamati pintu keluar di ruangan itu. Ia melihat Dennis berjalan seorang diri meninggalkan pestanya.

Di luar hotel itu.. “Dennis, tunggu!!”

Dennis berhenti, menoleh ke belakang dan kaget melihat Ann berlari-lari kecil sambil mengangkat ujung gaunnya. Ia berlari menyusul Dennis tanpa menghiraukan gerimis yang masih turun sejak tadi.

“Kenapa kau sudah mau pergi? Pestanya baru saja dimulai.”

Meskipun Dennis tidak mengerti mengapa Ann mau repot-repot mencegah tamunya pulang, tapi ia terpaksa mengarang cerita, “Tadi aku baru ingat ada pekerjaan mendadak dari Bosku. Aku harus segera kembali ke sana. Maaf aku tidak bisa berlama-lama di
pestamu.”

Ann terlihat maklum, “Kau pulang bukan karena ucapan Calvin tentang pekerjaanmu tadi kan?”
”Apa? Tentu saja bukan,” jawab Dennis, berusaha terdengar wajar, “aku samasekali tidak tersinggung.”

aku pergi karena tidak mau melihat perlakuan manis pria itu padamu. Aku merasa tidak berdaya, aku cemburu.

“Syukurlah....aku kira kau tersinggung karena ucapan Calvin tadi.”

Dennis memandang jauh ke dalam matanya, kemudian berpaling. “Aku ucapkan selamat padamu, untuk pertunangan itu.”
“Terima kasih.”
”Apa dia benar-benar pilihanmu yang paling tepat?” suara Dennis
hanya sedikit lebih keras dari sebuah bisikan.
“Apa maksudmu?”
”Maksudku......sejujurnya aku berat menerima semua ini. Aku kaget. Kita berpisah selama bertahun-tahun , lalu kemarin kita bertemu untuk pertama kalinya, dan tiba-tiba saja kau bilang kau sudah bertunangan. Semuanya itu terlalu ganjil bagiku.”
”Jadi ini alasanmu meninggalkan pesta itu kan?” Ann tertawa pahit, “memangnya kenapa kalau aku sudah bertunangan? Apa aku salah kalau dalam waktu lima tahun itu ternyata aku sudah berhasil membangun kembali hidupku? Apa aku salah dan tidak seharusnya
memberitahumu kalau aku sudah punya kekasih baru?”
“Bukan itu maksudku. Aku hanya...sulit menerimanya.”
”Jangan konyol, Dennis....kau tentunya tidak berharap aku terus hidup dalam kenangan pahit darimu kan?”

Dennis termangu kaget, ia menangkap sorot mata yang menyakitkan dari gadis itu. Tapi hatinya juga ikut menanggung rasanya.

“Aku bisa melanjutkan hidupku kembali, apa yang terjadi di antara kita lima tahun yang lalu sedikitpun tidak bisa menghalangiku untuk kembali meraih kebahagiaan itu. Kau jangan berpura-pura....sebenarnya kau juga kan? Lalu kenapa kau harus merisaukan
masalah pertunanganku itu?”
“Kau benar.” Dennis tak mampu menumpahkan seluruh isi hatinya saat itu, ia hanya sanggup berpura-pura tak peduli, “apa yang terjadi di antara kita memang hanya masa lalu. Kalau kau bisa melupa
kannya, kenapa aku tidak?”

Ann tersenyum lagi, kali ini senyum yang dirasakan Dennis sengaja untuk menyerangnya.

“Lima tahun yang lalu kau bilang padaku di rumah sakit itu, bahwa kau tidak bersungguh-sungguh mencintaiku, aku harus melupakanmu dan masing-masing dari kita harus melanjutkan hidup kita kembali. Aku memang rapuh saat itu, tapi setelah berpisah denganmu aku perlahan-lahan bisa menjadi lebih kuat. Dan akhirnya aku bisa melupakanmu. Kau jangan salah paham, Dennis, jangan kau kira aku bertunangan dengan Calvin hanya untuk balas dendam atau pelarian, aku bersungguh-sungguh menjalin hubungan dengannya.”

Dennis membisu.

“Sekarang di antara kita tidak apa-apa lagikan? Masing-masing dari
kita sudah dewasa, aku harap kau bisa mengerti kalau aku berhak mempunyai hidup yang baru.”
”Tentu saja kau berhak, dan aku tidak akan menghalangimu.” Dennis mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya, “kau benar, di antara kita memang tidak ada apa-apa lagi. Aku akan mendoakan kebahagiaanmu dengan Calvin. Ini kado ulang tahunmu. Meskipun aku tidak bisa memberimu kalung berlian seperti itu, tapi kuharap kau akan suka.”

Ann menerima kado mungil itu tanpa suara.

“Selamat ulang tahun, Ann.” Dennis tersenyum tulus padanya, kemudian beranjak pergi dengan hati yang hancur.

Ann berdiri di sana seorang diri. Ia perlahan-lahan membuka kotak di tangannya itu. Sebuah gelang perak mungil yang berhiaskan
hati dan bintang-bintang. Indah sekali.
***

Selina yang dimaksud oleh Calvin adalah sebuah jam tua yang besar berdiri di ruang tamu Ann. Konon usianya sudah sangat tua hingga hampir dimasukkan ke museum barang-barang seni. Tapi benar kata Calvin, meski usianya sudah sangat tua tapi kondisinya masih bagus seolah-olah tidak termakan usia. Jam antik ini dibeli oleh Calvin di London khusus dihadiahkan untuk Ann.

Dennis menyentuh setiap bagian dari jam tua itu dengan hati-hati. Ia mengagumi setiap detailnya. Benar-benar barang klasik yang sayang kalau sampai dimasukkan ke museum. Tapi yang pasti, tidak gampang untuk memperbaikinya.

Dennis mendesah kecil sambil membuka kotak peralatannya. Sekilas ia mengintip Ann dari pantulan kaca di jam antik itu. Dilihatnya Ann sedang duduk di sofanya sambil mengerjakan sesuatu dengan komputer laptopnya. Penampilannya kelihatan segar dengan pakaian santai dan rambut yang dijepit ke atas. Namun wajahnya sangat serius.

Tiba-tiba Ann mendongak, dan dalam sekejap tatapan mereka saling bertabrakan. Dennis segera memalingkan wajahnya.

Mungkin datang ke rumah ini bukan ide yang baik. Seharusnya aku menolak tawaran Calvin kemarin. Kalau begini suasananya jadi
tidak enak. Ann kembali menekuni laptopnya. Tapi beberapa
menit kemudian ia pindah ke ruangan yang lain. Dennis menghela nafas lega.

“Hey Speed, kau dari tadi tetap di sini terus, mau melihatku bekerja ya?” Dennis mulai membongkar jam antik itu sambil mengajak ngobrol Speedy yang sejak tadi terus tiduran di dekatnya, “tolong beritahu aku satu alasan, mengapa aku bisa dengan tololnya datang
ke rumah ini? Bukannya serius kerja malah lihat-lihat orangnya. Tuh, kau saja sudah tidak tahan mau menertawai aku kan? Kuberitahu ya, jadi anjing peliharaan itu sebenarnya jauh lebih enak daripada jadi manusia. Rumah ada, makanan selalu disediakan, kotoran selalu dibersihkan...kurang apalagi? Aku saja harus kerja keras baru dapat makan. Lagipula jadi anjing tidak perlu repot-repot pusi
ngin urusan cinta.”

Dennis tertawa sambil mengelus-ngelus anjing itu. Speedy bergelut manja di pahanya. Tak lama kemudian Calvin mendadak muncul dari pintu masuk rumah. Ia terlihat agak terkejut melihat kehadiran Dennis di sana, ”Oh sudah datang rupanya. Pagi-pagi sekali?”
”Iya, mumpung masih belum banyak orderan.”
”Mana Ann ?”
”Tadi ada di sini, tapi sudah pergi ke dalam sana.”

Calvin mengintip ke atas tangga,”Mungkin sedang ganti baju di kamarnya...”

Kemudian pemuda itu menghempaskan dirinya di atas sofa empuk. Ia menyilangkan sebelah kakinya, duduk mengamati pekerjaan Dennis tanpa suara. Lalu Speedy dating menghampirinya.

“Speed! Jangan kotori pakaianku!” Calvin mengusirnya, “dasar anjing manja.”

Dengan berat hati Speedy meninggalkannya dan beralih kembali ke tempat Dennis.

“Bagaimana jamnya? Bisa diperbaiki?”
”Aku belum begitu yakin, tapi akan kucoba.”
”Ayolah...aku yakin tukang sepertimu pasti bisa memperbaikinya. Jam antik itu saying kalau sampai tidak bisa jalan.”
Dennis tidak menjawabnya, sibuk.
“Pesta kemarin meriah sekali ya, aku sangat senang malam itu. Akhirnya aku bisa mengumumkan pertunanganku secara
resmi pada semua orang.”
”Aku lupa mengucapkan selamat.”

Ann memasuki ruang tamu itu, menatap Calvin, “Kau sudah datang. Kenapa tidak memanggilku?”
”Aku kira kau lagi ganti baju. Loh? Kenapa belum ganti baju?”
Calvin melirik arlojinya, “satu jam lagi loh.”
“Aku tadi keasikan bikin tugas,” jawab Ann sambil memasuki ruang makan keluarga. Calvin mengikutinya.

Sekedar informasi, ruang tamu dan ruang makan hanya bersebelahan dan tanpa sengaja pun Dennis bisa mendengar semua percakapan mereka.

“Kau kenapa? Sepertinya tidak terlalu niat pergi? Kau tidak mau menemui orang tuaku?”
“Bukan begitu. Aku tadi cuma kelupaan.”
“Kalau begitu...” Ann dipeluknya dari belakang, “kuharap kau bisa segera ganti baju...lalu kita berangkat menemui ayah-ibuku. Mereka semua sudah tidak sabra menemuimu, Ann. Kalian kan cuma pernah
ketemu 3 kali waktu di London itu. Ibuku bilang dia sudah kangen dengan calon menantunya. Nah, lalu sehabis menemui mereka....aku akan membawamu makan-makan direstoran Italy yang kau bilang enak itu.”

Ann tersenyum kecil ,”Iya...iya...aku ganti baju dulu.”
”Nah,gitu donk. Yang cepat ya, aku tunggu.” Calvin melepaskan pelukannya, “jangan kelamaan ya.”

Setelah Ann naik ke atas, Calvin kembali keruang tamu dengan wajah berseri-seri. Ia mengamati Dennis yang sedari tadi terus jongkok memperbaiki jam itu, “Kau tidak keberatan kan, kerja sendirian? Nanti aku dan Ann mau pergi ke rumah orang tuaku. Kalau pekerjaanmu belum selesai dan kau sudah mau pulang, pulang saja. Ah...rasanya aku sudah tidak sabar membawa Ann pada kedua orang tuaku. Ann itu benar-benar tipe yang disukai mereka. Mereka in
gin kami segera menikah.”

Dennis terus berkutat dengan peralatannya.
“Siapa namamu kemarin? Aku lupa.”
”Dennis.”
”Oh iya....Dennis. Hey, ngomong-ngomong apa sekarang kau tengah menjalin hubungan spesial dengan seseorang?”
”Tidak. Kenapa?”
”Kenapa tidak ada? Setahuku pekerjaanmu itu tidak terlalu menyita waktu. Sekali-kali ambil cuti saja, bekerja terlalu keras tidak baik bagi kehidupan sosialmu.”

Dennis tersenyum simpul, “Aku tidak sepertimu. Kalau aku tidak kerja, dari mana aku makan?”
”Hm...susah juga ya. Seperti yang kukatakan kemarin, mungkin ada baiknya kau cari pekerjaan yang lain saja. Jadi tukang servis itu tidak ada untungnya. Apa kau menyelesaikan kuliahmu ?”
”Tidak, putus tengah jalan.”
”Kenapa? Tidak cukup biaya? Sayang sekali. Padahal dengan kuliah tinggi kita baru bisa dapat gelar dan mencari pekerjaan yang layak.”

Apa maksudnya?! Apa pekerjaanku ini tidak layak?!!

“Oh ya...kata Ann kau teman lamanya. Apa kaubisa sedikit menceritakan tentang Ann dimasa-masa remajanya? Aku yakin kau pasti sangat mengenalnya.”
”Kau ini kan tunangannya. Kau pasti jauh lebih mengenalnya.”
”Entahlah...” wajah Calvin sedikit berubah, “kadang Ann dari luar memang kelihatan adem ayem saja...tapi aku tidak terlalu yakin apa selama ini dia memang sudah terbuka padaku. Dia itu misterius, aku merasa masih banyak rahasia yang ia sembunyikan dariku. Aneh juga ya, apa mungkin aku yang terlalu banyak pikiran?”
“Seharusnya kau tidak memikirkan yang bukan-bukan. Dia itu tunanganmu, sudah pasti dia akan terbuka padamu. Beri dia kesempatan karena semuanya tidak bisa instan. Kadang kita tidak bisa memaksa seseorang untuk selalu terbuka pada kita, karena dalam diri seseorang pasti ada sesuatu yang lebih baik disimpan sendiri.” Dennis melamun meresapi ucapannya sendiri.

Calvin menatapnya tajam.

“Ah sudahlah, aku memang tidak pandai memberi nasehat.”

Di saat yang bersamaan Ann muncul di tengah-tengah mereka. Ia tersenyum ringan pada Calvin, “Yuk, berangkat.”

Calvin mengandeng tangannya, “Ayo.”

Ann pergi begitu saja tanpa menghiraukan keberadaan Dennis.
Setelah keduanya pergi, Dennis melempar peralatannya ke lantai.
Ia tidak capek, tapi hatinya yang capek.

“Aku harus benar-benar melupakan majikanmu,” ia kembali mengelus Speedy, “kau lihat sendiri kan? Dia samasekali sudah melupakanku. Kalau dia bisa, kenapa aku tidak? Kadang aku pikir...lebih baik pertemuan kami yang kemarin lusa itu tidak perlu terjadi sama sekali. Memang aku yang salah, tidak seharusnya aku melepaskan dia begitu saja lima tahun yang lalu. Manusia memang bodoh, Speed. Sebodoh aku yang melepaskan cinta tanpa berusaha mempertahankannya. Kadang manusia harus kehilangan dulu, baru
bisa merasakan betapa berartinya cinta itu.”

Speed menatapnya bingung.
***

Kira-kira pukul 2 siang Dennis baru pulang dari rumah
Ann. Jam yang diberi nama Selina itu belum bisa diperbaiki sampai selesai, mungkin besok baru bisa dilanjutkan lagi. Karena Ann belum pulang, Dennis hanya berpamitan dengan pembantu rumah tangganya.
Pembantu itu membukakan pintu pagar untuk Dennis. Tapi sungguh di luar dugaan, tepat di depan pintu pagar yang tinggi menjulang itu,
Dennis berpas-pasan dengan seorang pemuda yang rasanya masih segar di ingatannya. Pemuda itu melotot marah melihat Dennis, “Kau?! Apa yang kau lakukan di sini!”

Dennis menyilang kedua tangannya di depan dada, “Oh...rupanya kau, bocah reseh. Sudah lima tahun akhirnya kita bertemu lagi.”

Pemuda itu tidak lain lagi adalah Josh. Mungkin ia yang paling tidak banyak berubah diantara mereka semua, masih dengan rambut cepak dan wajah tampannya yang babyface, “Hey brengsek, ngapain di rumah Ann?! Sudah lima tahun kenapa kau bisa tiba-tiba muncul di depan mataku?! Kukira kau sudah mati!”

“Lalu maumu apa? Berantem lagi kayak dulu!?”
”Jawab pertanyaanku dulu! Kenapa kau bisa ada di sini!”

Dengan santai Dennis mengangkat kotak peralatannya tinggi-tinggi, “Selamat berkenalan dengan tukang reparasi.”
”Apa-apaan ini...”
”Aku datang ke sini untuk memperbaiki jam. Memangnya kau kira aku maling?”
“Memperbaiki jam?” Josh tertawa mengejek, “Kenapa bisa serba kebetulan begitu ya? Selama lima tahun kau lenyap dari kehidupan Ann, lalu di siang bolong begini tiba-tiba kau muncul di rumahnya untuk memperbaiki jam. Dasar tidak punya harga diri.”
”Apanya yang tidak punya harga diri? Aku heran...kenapa di dunia ini ada orang sepertimu yang selalu sok ikut campur urusan orang lain. Urusan yang lalu itu hanya diantara aku dan Ann, jangan sok tau!!”
“Aku sok tau?!”
“Seperti anak kecil saja....Minggir,” Dennis menepis Josh menyingkir dari jalannya. Josh merasa tidak senang, ia menarik kemeja Dennis dan menyeretnya ke hadapannya.

Di saat yang bersamaan datang mobil sedan milik Calvin. Calvin membunyikan klakson kecil memanggil mereka. Sementara Ann menatap Dennis dan Josh dengan cemas. Ia segera turun dari mobil dan menghampiri mereka sebelum terjadi perkelahian lagi seperti dulu.

“Josh, kenapa kau bisa di sini?”
”Seharusnya aku yang tanya, kenapa bajingan ini bisa ada di rumahmu!”
”Dia datang untuk memperbaiki jam kuno pemberian Calvin.”
”Memangnya tukang reparasi di kota ini sudah mati semuanya!? Kenapa harus manggil dia!”
”Bukan aku, tapi Calvin yang memintanya.”

Josh menoleh ke arah mobil Calvin. Calvin ikut keluar, ia memandang mereka dengan tatapan bingung.

“Tolong jangan bikin keributan di sini.” Ann memelas.

Josh melepaskan cengkramannya, dengan sangat terpaksa ia akhirnya mau membebaskan Dennis. Tapi kedua pemuda itu masih terlibat adu mata yang sengit. Wajah keduanya terlihat penuh amarah. Mau tak mau Ann terpaksa menarik Dennis menjauh dari Josh, “Dennis, pulanglah. Aku tidak mau kalian bertengkar lagi seperti dulu.”
”Aku memang sudah mau pulang. Pekerjaanku belum selesai tapi aku akan menyelesaikannya besok,” Dennis melotot pada Josh, “bilang ke temanmu itu, lain kali jangan suka reseh!”

Tanpa curiga sedikitpun, Calvin menghampiri Josh, “Ada apa? Kenapa tegang begini?”
”Tegang apaan?! Kau ini bodoh sekali, kalau aku jadi kau...aku akan sewa tukang servis lain! Aku tidak akan membiarkan bajingan itu
menginjak kakinya lagi di rumah Ann!”
”Memangnya kenapa?”
“Ya ampun...dia itu kan pacar pertamanya Ann! Masak kau tidak tahu sama sekali?! Ann pernah punya kenangan yang pahit dengannya! Aku tahu dia pasti masih mengincar Ann!”

Calvin terperangah, “A...apa kau bilang?”
“Kau tidak tuli kan? Awasi orang itu baik-baik, jangan sampai dia dekat-dekat dengan tunanganmu! Ann itu pernah punya cerita dengannya, dan kujamin kau akan menyesal kalau cerita itu sampai terulang lagi.”

Calvin memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, matanya tajam mengamati Ann yang sejak tadi terus berada disitu membujuk Dennis untuk pergi. Tiba-tiba saja ia sadar sesungguhnya ia belum mengenal Ann dengan jelas. Matanya lalu bergantian mengawasi Dennis.

Ada apa sebenarnya antara kau dan tunanganku ?!
***

Josh berkacak pinggang menatap Ann di ruang tamu yang sepi itu, “Aku tidak mengerti kenapa kau tidak mau menceritakan tentang Dennis pada Calvin.”
”Buat apa? Tidak ada yang perlu diceritakan.”
”Tapi dia itu kan tunanganmu. Apa kau tidak merasa aneh telah merahasiakan sesuatu padanya?”
”Josh, aku tidak merahasiakan apapun pada Calvin. Aku tidak memberitahu dia karena aku rasa semua itu hanya kejadian kecil di masa laluku, tidak ada yang istimewa sampai harus diceritakan padanya. Memangnya aku harus cerita semua kejadian masa laluku
sampai sedetail-detailnya? Lagipula aku tidak pernah menganggap antara aku dan Dennis pernah punya hubungan khusus, karena kuanggap semua itu palsu.”
”Tapi kau....kau tentunya tidak berpikiran ingin kembali lagi pada Dennis kan?”

Ann menoleh kaget, “Tentu saja tidak!”
“Syukurlah...aku tidak bisa membayangkan kalau kau sampai punya pikiran seperti itu.” Josh mengaruk kepalanya.

“Oh ya, buat apa kau datang ke rumahku?”
”Cuma mau minta maaf kemarin aku tidak bisa
datang ke pesta ulang tahunmu. Aku lagi banyak kerjaan.”
Ann tersenyum penuh selidik, “Banyak kerjaan atau banyak acara? Sama Sherly kan?”

Sherly adalah nama pacar Josh. Mereka berkenalan setengah tahun yang lalu di kantor tempat kerja Josh, lalu mulai pacaran serius sejak seminggu ini. Tentu saja Josh sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi terhadap Emma, perasaan itu sudah sirna sejak mereka sama-sama dewasa. Ia bahkan nyaris kehilangan kontak dengan Emma.

“Kapan nih nyusul?” Ann memamerkan cincin tunangannya sambil tertawa.
”Waduh....aku kan tidak seperti Calvin, harus kumpulin duit dulu baru berani married. Jadi Calvin sih enak....segala-galanya udah punya. Ayahnya saja pejabat....Oh ya, kalian kapan nih marriednya? Disini atau di London?”

Ann mengendik bahu, “Tidak tahu.”
“Kelihatannya kau tidak terlalu berminat...”
”Bukan begitu. Aku ini cuma terima apa maunya dia. Katanya sih bulan depan, mungkin di London.”
”Selamat ya....aku senang akhirnya kau bisa menemukan pasangan seperti Calvin. Dia itu tipe pria yang tidak akan me ngecewakanmu. Kau sangat beruntung.”
“Kau benar. Aku memang sangat beruntung.” Ann tersenyum simpul.

Sangat beruntung...
***

0 komentar:

Posting Komentar

 

Widya Emblogs Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | Make Money from Zazzle|web hosting